Bermetodekan Mengamati, Mendokumentasi, Memetakan, dan Menarasikan
Sunday, March 13, 2016
246 Sulit Dongkrak Nilai Ujian Nasional
Pesta tahunan dalam dunia pendidikan segera dimulai. Pesta tersebut melibatkan peserta didik mulai dari jenjang pendidikan tingkat sekolah dasar, sampai sekolah menengah baik pertama maupun atas. Peserta didik merupakan pelaku utama. Mengapa? Peserta didik yang akan melaksanakan pesta tersebut, yaitu Ujian Nasional.
Tulisan ini mengupas bukan sisi Ujian Nasional dengan menggunakan komputer melainkan sisi peserta didik. Apa menariknya sisi peserta didik sehingga dikupas secara khusus?
Peserta didikan memikul beban berat selama proses pra-Ujian Nasional. Mengapa memikul beban berat? Beban berat apa ? Mengapa justru pra-Ujian Nasional?
Hasil Ujian Nasional baik diakui atau tidak merupakan pertarungan gengsi bagi beberapa pihak. Siapa saja pihak tersebut? Pertama pihak sekolah. Kedua, Diknas Pendidikan baik Kota maupun Kabupaten. Ketiga pihak sekolah.
Baik pihak orang tua, bagi sebagian orang tua lulus dan nilai maksimal bagi putra putrinya adalah hal yang harus diraih. Baik alasan latar belakang pendidikan kedua orang tua, nama baik keluarga atau pun status sosial orang tua. Maka orang tua berjibaku memenuhi hal-hal terkait peraihan hasil Ujian Nasional, lulus-nilai maksimal.
Pihak Dinas Pendidikan Kota atau pun Kabupaten. Pihak ini sangat berkepentingan dengan perolehan hasil Ujian Nasional yang berada dalam teritori kerjanya baik Dinas Pendidikan Kota maupun Kabupaten. Mengapa? Bagi pihak Dinas Pendidikan hasil perolehan Ujian Nasional memiliki "nilai politis." Jika nilai rata-rata sekolah dibawah teritorinya tinggi maka promosi jabatan diwaktu mendatang. Sebaliknya, jika nilai rata-rata rendah maka siap-siap masuk dalam rombongan mutasi turun.
Bagi pihak sekolah, perolehan hasil rata-rata nilai peserta didik dalam Ujian Nasional memiliki dimensi promosi strategis. Menyadari nilai hasil Ujian Nasional sangat strategis bagi penambahan pendaftaran peserta didik baru maka pihak sekolah menjalankan beberapa program tambahan.
Uraian diatas merupakan dimensi egoisme para pihak disekitar peserta didik. Para pihak hanya melihat "demi gengsi." Tapi sadarkah pihak orangtua, pihak Dinas Pendidikan dan pihak sekolah bahwa peserta didik "memikul" super berat.
Apa dan bagaimana peserta didik "memikul" beban demi "gengsi" para pihak?
Peserta didik dituntut oleh orang tua untuk ambil les privat. Les privat dilaksanakan setelah peserta didik pulang sekolah. Bahkan jika perlu, pelaksanaan les privat hari minggu bahkan malam hari. Mengingat guru les "jam terbangnya." Dan, biasanya mata pelajaran yang di-Ujian-Nasionalkan memiliki daya tawar tinggi. Artinya berapa pun harga per jam, tidak masalah.
Peserta didik baru, wajib ikut jam pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh sekolah. Pelajaran tambahan dilaksanakan karena pertimbangan selain menyelesaikan pokok bahasan kelas XII sendiri, juga masih harus mengulang pokok bahasan kelas X dan XI. Jam efektif kelas XII terpotong ada libur, pelaksanaan TO, pelaksanaan simulasi, Ujian Sekolah, Ujian Praktek dan kegiatan lainnya.
Pelaksanaan pelajaran tambahan ada beberapa model. Ada pelajaran tambahan dilaksanakan pagi hari, juga ada pelajaran tambahan dilaksanakan siang hari-setelah pulang sekolah.
Pelaksanaan Ujian Nasional diakui atau tidak merupakan iklim kondusif bagi makin menjamurnya bimbingan belajar. Bimbingan belajar atau bimbel saling "bertarung" memberikan pelayanan prima bagi peserta didik. Aneka pelayanan "prima" ditawarkan oleh bimbel, mulai kelas privat sampai kelas gold. Kelas Gold memberikan jaminan 100% lulus-jika tidak uang kembali.
Diakui, bimbel memberikan pelayanan yang terbaik dibandingkan pelayanan guru di sekolah. Berbagai fasilitas diberikan, tidak seperti saat di sekolah. Interaksi guru (tentor) lebih intensif dan personal. Dan, bimbel memberikan strategi untuk mengerjakan agar mendapatkan jawaban yang tepat.
Pelaksanaan bimbingan belajar dilaksankan sepulang sekolah. Bahkan terkadang terusan sehingga peserta didik tidak sempat pulang ke rumah.
Selain bimbingan belajar, peserta didik wajib mengikuti Try Out (TO). TO ini biasanya dilaksanakan sebanyak tiga kali menjelang Ujian Nasional. Pelaksanaan nya satu kali dalam satu bulan. TO ini dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
TO juga diselenggarakan oleh pihak Perguruan Tinggi (PT). Tujuan pelaksanaan ini adalah promosi perguruan tinggi dan menjaring calon mahasiswa baru. Pelaksanaannya lebih sering di lembaga/kampus PT yang bersangkutan.
TO dalam artian lain juga dilaksanakan oleh guru mata pelajaran Ujian Nasional. Guru bersangkutan melaksanakan kuis kecil, latian soal-soal. Baik melalui kumpulan soal maupun buatan guru sendiri.
Jika TO berkaitan dengan latian untuk Ujian Nasional, peserta didik wajib juga mengikuti Ujian Sekolah. Ujian Sekolah dilaknakan sebagai evaluasi mata pelajaran non-Ujian Nasional. Tentu bagi peserta didik Ujian Sekolah mempunyai kepentingan nilai yang tinggi selain Ujian Nasional.
Selain Ujian Sekolah, peserta didik masih harus mengikuti pelaksanaan Ujian Praktek, seperti komputer, ketrampilan Pendidikan Jasmani (OR). Ujian praktek merupakan penilaian pada sisi kinestetik.
Dari uraian diatas terdeskripsikan bahwa peserta didik kelas XII sebelum menghadapi Ujian Nasional berada pada kondisi "kelelahan." Baik kelelahan emosional, mental, fisik dan intelektual.
Berdasar kondisi peserta didik "kelelahan" maka sangat mungkin perolehan hasil Ujian Nasional baik untuk sekolah maupun rata-rata Kota/ Kabupaten tidak maksimal.
*) Kukuh Widijatmoko, M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang
Thursday, March 10, 2016
245 Idolaku Kami Bu Khoiriyah
Saat SMA saya sekolah di dalam Pesantren, tepatnya di MA Miftahul Midad Lumajang. Karena Pada saat itu saya masih tergolong siswa yang tidak pintar di kelas, jadi saya sering sekali menyusahkan teman sebangku saya. Nilai saya juga tidak begitu bagus, mungkin paling bagus seingatku hanya 8. Tapi banyak pengalaman yang bisa saya dapatkan dari sekolahan yang berdiri di bawah naungan Pesantren. Tidak hanya ilmu umum tapi juga ilmu agama saya peroleh dari situ. Di sana saya juga belajar mandiri dan bersosialisasi dengan banyak teman yang bermacam-macam karakternya. Ada yang berbasa Madura, bali, sunda dan melayu, tapi kita tetap bisa berinteraksi dengan bahasa kesatuan yaitu Bahasa Indonesia
Pada saat saya duduk di kelas tiga Aliyah, saya memiliki guru idola bernama Bu Khoiriyah, beliau sangat ramah dan sering menegur kita tidak hanya di dalam kelas saat mengajar tapi juga di luar jam mengajar. Sampai sekarang kita tetap sering silaturahmi ke Rumah beliau. Dalam mengajar beliau sangat sabar dan telaten, begitu hafal dengan nama-nama murid di kelas pada waktu itu. Pelan tapi pasti. Tidak satupun murid di kelasnya tertinggal mata pelajarannya. Ketika saya sakit, saya pernah tidak masuk sekolah dan beliau menganjurkan saya untuk ke rumah beliau untuk mengejar mata pelajaranya. Karena waktu itu saya berada dalam asrama, saya tidak bisa seenaknya keluar hingga akhirnya beliau mengijinkan saya waktu hari libur untuk ke remuh beliau ke pada Ibu nyai dan pengurus pesantren. Dari situlah awal saya menyayangi dan mengidolakan beliau. Beliau tidak hanya Guru untuk kita tapi seperti ibu yang menghawatirkan anak-anaknnya. Itulah sebabnya saya bisa memperoleh nilai 9 di ujian nasional dalam mata pelajaran beliau yaitu Ekonomi.
Pernah suatu ketika kita foto ijazah terahir, dan saat itu beliau belum keluar dari kelas lain yang berdampingan dengan kelas kita. Kita menunggu beliau mengajar sampai kita tidak kembali ke asrama hanya ingin berfoto bersama beliau. Kita Sempat putus asa karena tukang foto ingin segera pulang sedangkan bu khoiriyah masih belum selesai mengajar, dan akhirnya salah atu diantara kita nekat untuk mengetuk pintu dan meminta sedikit waktu beliau untuk berfoto bersama kami. Karena alas an untuk kenang-kenangan, akhirnya beliau mengijinkan dan berfoto bersama kami.
Banyak sekali sisi yang bisa saya ambil dari beliau, yang paling saya sukai adalah ketelatena beliau ketika saya sakit dan beliau mengajak ke rumahnya. Sempat waktu itu itu saya menolak karena pasti tidak akan diizinkan oleh pengurus pesantren, tapi demi satu siswa yang takut tidak sama dengan siswa lain di kelas, beliau mengizinkan saya sehingga saya bisa belajar tenang di rumah.
Itulah kenapa saya sangat mengidolakan beliau, karena saya sangat mencintai dan menghormati beliau. Karena di awali dari rasa cinta itulah saya sangat suka juga dengan matapelajaran yang diajarkan beliau. Sehingga nilai ujian nasional yang tertinggi milik saya adalah nilai mata pelajaran yang diajarkan oleh beliau.
*) Nur Faridah
(130401080101)
S1-Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Satra Indonesia
Universitas Kanjuruhan Malang
244 Bapak Mading Itu Idolaku
Tidak bisa dipungkiri masa sekolah adalah masa dengan berjuta pengalaman. Dari mulai putih merah, putih biru sampai putih abu-abu,tentunya memiliki kesan yang berbeda-beda dan yang pasti sulit untuk dilupakan atau bahkan pengalaman tersebut tidak akan terulang dimasa yang lain. Kali ini saya tidak akan banyak menceritakan apa saja kesan yang saya dapatkan dibangku SD atau SMA, karena saya ingin sedikit berbagi kisah dimasa putih biru, dimana banyak orang mengatakan masa putih biru adalah masa pencarian jati diri, tidak sedikit pula yang mengatakan masa putih biru adalah masa dimana remaja sedang nakal-nakalnya. Mungkin karena umur yang mulai menginjak belasan tahun alias masa puber sehingga banyak orang mengatakan masa nakal-nakalnya karena diumur belasan ini lah mulai timbul rasa penasaran yang akhirnya membuat remaja ingin selalu mencoba hal baru. Saya pun membenarkan pendapat ini, dibangku SMP ini lah saya banyak menjumpai hal baru yang belum pernah saya temui dibangku SD. Hobi membaca yang sejak kecil saya tekuni kini merasa terpuaskan dengan adanya perpustakaan sekolah yang tentunya memiliki bangunan yang lebih besar dari perpustakaan sewaktu SD dulu, dan yang pasti perpustakaan ini memiliki lebih banyak ragam buku bacaan dengan jumlah yang banyak pula. Hal ini membuat saya ketagihan untuk menyambangi perpustakaan saat jam istirahat, ini membuat kartu perpustakaan saya penuh dengan catatan izin meminjam buku. Bukan hanya itu saja, disekolah ini juga saya lebih mengenal apa itu organisasi sampai pada akhirnya saya menemukan organisasi yang tepat dengan diri saya.
Menginjak kelas delapan, saya mulai memiliki mata pelajaran yang saya sukai yaitu pelajaran bahasa Indonesia. Ini berawal saat saya bertemu dengan seorang guru bernama Khaerul Tavip, beliau guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Sewaktu kelas tujuh, saya sering mengdengar cerita tentang beliau terlebih sistem pengajarannya, beliau dikenal sebagai guru yang disiplin waktu dan keaktifan dalam kelaspun menjadi nilai penting dalam proses pengajaran, beliau pun sangat rajin dalam hal memberikan tugas kepada siswanya. Dari sekelumit yang saya dengar tadi membuat kesan pertama saya dengan beliau dibumbui dengan rasa cemas dan takut karena kelas saya dikenal dengan ketidak kompakannya dan permasalah-permasalahan yang ada dalam kelas. Dan semua bayang-bayang kecemasan itu hilang seketika saat beliau mulai memberikan pelajaran dikelas saya, beliau tipe guru yang sangat menyenangkan dan sangat ramah terhadap siswanya. Yah, ini lah awal saya menggemari pelajaran bahasa Indonesia sampai saat ini dan bukan hanya itu saja, sampai sekarang beliau sosok guru yang saya idolakan serta menjadi panutan saya.
Menjadikan seseorang sebagai sosok yang diidolakan tentunya membuat setiap pengalaman bersama beliau menjadi sesuatu yang selalu mengesankan. Pun saat beliau menjadi pembina mading dan meminta saya menjadi bagian dari redaksi mading serta meminta saya untuk merekrut teman-teman agar bergabung dalam organisasi ini dan mulai menghidupkan mading sekolah yang sebelumnya telah vakum. Dengan rasa tidak percaya diri saya memberanikan untuk bergabung dengan mading, beliau meyakinkan bahwa setiap dari kita bisa menulis dan mempunyai potensi untuk menjadi penulis. Semenjak itulah mading sekolah menjadi hidup kembali serta banyak pula siswa yang mengirimkan karyanya untuk kami seleksi dan ditayangkn dimading sekolah, perjalanan ini memang tidak sesingkat yang saya ceritakan namun setiap kesulitan yang kita hadapi menjadikan pengalaman yang tidak terlupakan. Pernah suatu hari saat saya kelas sembilan beliau meninggalkan kelas karena pada saat itu keadaan kelas saya tidak kondusif, ketua kelas yang seharusnya mewakili untuk menemui beliau dan meminta maaf justru menyuruh saya dan teman sebangku saya yang sama-sama menjadi redaksi mading untuk mewakili kelas. Dengan alasan kami lebih mengenal dekat dengan pak Khaerul lalu teman sekelas mendorong saya untuk menemui beliau. Singkat cerita, beliaupun akhirnya memaafkan kesalahan kami dan bersedia untuk masuk kelas kami.
Dari awal saya mengenalnya,beliau merupakan sosok yang disiplin dalam hal waktu ini ini terbukti dengan beliau yang tidak pernah masuk terlambat tidak jarang pula beliau masuk kelas lima menit sebelum bel masuk berbunyi bisa dibayangkan bagaimana suasana kelas saat itu, sepi dan belum banyak siswa yang datang. Setiap pelajaran selesai beliau selalu mengamanatkan kami beberapa tugas yang harus dikerjakan. Kurang lebih dua tahun beliau mengajar pelajaran bahasa Indonesia dikelas saya, namun beliau telah mampu mengubah saya menjadi siswa yang lebih aktif dan berani mengekspresikan setiap pengalaman dalam sebuah tulisan. Hal ini membuat saya dan tim mading tidak mampu menahan tangis saat beliau secara pribadi menyampaikan bahwa beberapa minggu lagi beliau akan pindah tugas.
Sekitar tiga bulan lagi saya akan menghadapi UN dan beliau menyampaikan akan pindah tugas, dan ini membuat saya selalu meneteskan airmata saat bertemu beliau bahkan saat mengajarpun terkadang saya dan teman sebangku justru menangis bukan malah menyimak pelajarannya. Rasanya beliau hanya menemani proses kamj tanpa ikut melihat hasil dari proses kami belajar bersama beliau. Setiap ada pertemuan dengan organisasi beliau lebih banyak menyampaikan amanat yang harus kami jalankan terlebih untuk mading sekolah, dan kami hanya mampu menitihkan airmata. Sosok guru yang saya idolakan dengan segala kelebihan yang beliau miliki serta sistem pengajaran beliau yang berpedoman santai tapi pasti selalu menginspirasi saya jika kelak saya menjadi guru saya ingin seperti beliau.
*) Tipah Apriyani
150401080008
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Kanjuruhan
Malang
243 Kehilangan Guru Idola
Memasuki dunia SMA, saya benar-benar merasa tertarik. Bagaimana tidak, kata orang-orang masa SMA lah yang paling berkesan. Memang benar, kehudupan di SMA jauh berbeda dengan kehidupan di SMP walaun jarak SMA tempat saya bersekolah dan SMP tempat saya menimba ilmu tidaklah jauh karena berada di kota yang sama *eh gak ngaruh ding. Mulai dari gedung yang megah, lapangan yang luas, taman-taman yang tertata apik, ekstrakulikuler yang keren, hingga para siswanya yang cakep-cakep. Namun, hal yang paling menarik minat saya adalah mata pelajaran baru. Eits, jangan berfikir kalau saya ini siswa teladan yang selalu rangking satu kalau istirahat yang lain ngemil cilok tapi saya ngemil buku. Bukan, saya bukan siswa dengan tipe seperti itu. Saya hanya siswa rata-rata tapi tertarik dengan hal-hal baru. Banyak pelajaran di SMA yang tidak ada di SMP. Salah satunya adalah bahasa asing, lebih tepatnya bahasa Jerman.
Banyak alasan seorang siswa menyukai mata pelajaran tertentu. Begitupun dengan saya. Pertama, saya memang tertarik untuk mempelajari bahasa asing, mungkin karena bahasa Inggris saya dibawah rata-rata teman seusia saya. Kedua, mungkin alas an ini terdengar klise, tapi memang benar adanya. Guru. Ketertarikan siswa pada seorang guru bisa mempengaruhi ketertarikan pada mata pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut, walaupun kita tidak begitu menguasai mata pelajaran tersebut.
Namanya Lilis, beliau masih muda. Saya tidak tahu pasti berapa umurnya, tapi yang saya ingat ketika hari pertama dimulainya pelajaran pada awal semester, beliau tidak hadir karena beliau sedang melangsungkan pernikahan. Pada waktu itu kelas saya diajar oleh ibu Pur, guru bahasa Jerman yang mengajar di kelas 10.1 sampai 10.6 (saya kelas 10.8, red). Bu Pur itu guru tatib, jadi ya bisa dibayangkan bagaimana suasana di kelas. Minggu depannya, bu Lilis yang masuk kelas dan benar dugaan saya. Selai masih muda dan cantik, bu Lilis ini sangat enak ngajarnya. Metode pengajaranya sangat menyenangkan, jadi walaupun kami para siswa merasa kesulitan dengan mata pelajaran, tapi kami tidak takut.
Seperti yang sebelumnya saya ceritakan, saya ini siswa dengan kapasitas otak menengah kebawah terutama untuk pelajaran MIPA. Namun, jangan kaget jika saya meraih nilai tertinggi di mata pelajaran bahasa Jerman. Jadikalau biasanya saya mencontek PR teman-teman saya, lain halnya di maple bahasa Jerman, gentian saya menjadi sumber contekan (hahahaha di situ kadang saya merasa pintar). Bagaimana tidak, walaupun tidak ada PR, tapi saya selalu mengerjakan soal-soal yang ada di buku ajar. The power of theacher, karena gurunya enak saya jadi semangat belajar.
Saya bukanlah siswa popular di mata para guru, termasuk bu Lilis itu sendiri. jadi jangan heran jika bu Lilis tidak tahu nama saya. Waktu itu ulangan harian yang kedua. Bu Lilis adalah satu guru yang merenapkan ketertiban. Jadi sewaktu ulangn tempat duduk diacak, hp ditaruh di atas meja, yang pastinya tidak boleh mencontek. Saya melihat raut muka takut dari teman-teman, karena bahasa jerman termasuk maple yang sulit, sulit dlam penulisannya itu lo huruf konsonannya bisa sampai jejer empat. Namun, saya tenang-tenag saja, karena memang sudah menguasai materinya. Dan jreng jreng jreng…. Saya dapat nilai tertinggi mengalahkan para jawara kelas. Mungkin mulai saat itu bu Lilis mulai menghafal nama saya. Akhirnya guru idola saya hafal dengan saya, sesuatu rasanya.
Mungkin, salah satunya karena beliaulah saya memilih masuk program bahasa. Karena nantinya anak-anak bahasa akan banyak kegiatan lomba seperti pecan bahasa Jerman di beberapa Universitas ternama di Jawa Timur. Sewaktu saya masih duduk di kelas 10, saya pernah mengikuti lomba di Surabaya walauu hanya bermain gamelan sebagai pengiring drama yang dimainkan olah anak Bahasa. Karena jarak antara rumah dan sekolah saya sangat jauh, dan besoknya harus berangkat pagi-pagi ke Surabaya, saya dan beberapa teman lain yang juga rumahnya jauh, memilih untuk meninap di sekolah agar tidak terlambat besoknya. Malam hari sebelum keberangkatan, kami makan nasi goring dan minum es teh manis yang dibelikan oleh bu Lilis di emperan masjid sekolah. Saat itu beliau menyaimpakan ucapan terima kasih sekaligus maaf karena demi mengikuti lomba kami harus menginap di sekolah.
Memasuki kelas 11, saya berharap mengulang moment-moment saya dengan bahasa jerman dan juga dengan bu LIlis. Namun, tanpa disangka, beliau mendapatkan beasiswa S2 di UGM dan otomatis harus berhenti dari kegiatan mengajar. Dan saya mendapat guru baru yang cara mengajarnya juga enak, saya berharap banyak dari guru baru terssebut. Namun, ternyata lain lading lain belalang, seperti itulah yang saya rasakan. Saya kehilangan sosok guru idola. Walaupun guru idola saya sudah tidak mengajar saya, tapi saya tetap bersemangat belajar bahasa Jerman sampai saat ini.
Semasa SMA, bu Lilis alumni sekolah tempat saya menimba ilmu. Beliau adalah sosok siswa teladan, dan banyak disukai oleh guru-guru. Beliau juga sempat meraih nomor di provinsi saat UNAS, mendapat beasiswa ke Jerman saat menempuh pendidikan S1. Akhirnya mengajar di almamaternya dulu. Hingga mendapat beasiswa S2 di UGM.
*) Elinda Putri Ariana
150401080007
Pend. Bahasa & Sastra Indonesia 2015 D
Universitas Kanjuruhan
Malang
242 Mengungkap Model Guru Mengajar
Guruku ngajarnya koq gak enak yaa???
Itulah penilaian peserta didik terhadap guru. Banyak hal penyebab munculnya penikaian tersebut. Hal tersebut menarik untuk ditemukan penyebabnya.
Bagaimana guru mengajar dalam kelas dapat digali berdasar beberapa hal, seperti latar belakang seseorang jadi guru, tujuan menjadi guru, dan kesulitan jadi guru.
Untuk menggali data terkait tiga hal tersebut maka dilakukanlah penelitian kecil-kecilan. Penelitian dilakukan kepada mahasiswa/i yang mengambil program pendidikan. Memang belum menjadi guru tapi penting untuk menajamkan pilihan profesi guru.
Buatlah angket dengan daftar pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa latar belakang menjadi Guru?
A. Keinginan sendiri
B. Meneruskan orang tua
C. Ajakan orang lain
D. Kebutuhan pekerjaan
E. Lingkungan
2. Apa tujuan menjadi Guru?
A. Mengembangkan ilmu
B. Kebutuhan ekonomi
C. Senang terhadap dunia anak
D. Meneruskan orang tua
3. Apa tantangan menjadi Guru?
A . Kepala Sekolah
B. Kondisi siswa
C. Relasi Negatif rekan guru
D. Tuntan administrasi
E. Cepatnya perkembangan jaman
Berdasar daftar pertanyaan diatas cara mengolah sederhana ialah menggunakan tabel dibawah ini.
Hal tersebut bertujuan menemukan kondisi riil berdasarkan data bukan berdasar asumsi atau pendapat subjektif.
*) Kukuh Widijatmoko, M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang
Saturday, March 5, 2016
241 Keunggulan Penilaian UN 2014/2015
Keunggulan Penilaian UN 2014/2015
Ada yang menarik penilaian Ujian Nasional (UN) 2014/2015 jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dari mana dikatakan menarik? Penilaian UN 2014/2015 tidak hanya menampilkan nilai tiap mata pelajaran UN saja tetapi dilengkapi aub pokok bahasan yang diujikan.
Lebih Menarik
Artinya lebih terperinci dan tiap sub pokok bahasan ada nilai. Selain tiap mata pelajaran dibuatkan grafik batang. Maka tiap sub pokok yang diujikan memiliki perbatang.
Selain itu perbatang sub pokok bahasan dibagi dua jenis. Batang yang berwarna putih dan batangan yang diarsir. Kedua warna tersebut memiliki makna berbeda.
Jika batangan sub pokok bahasan berwana putih maka nilainya dibawah standar minimal. Sebaliknya, jika batangan sub pokok bahasan diarsir maka nilainya diatas standar minimal.
Agar lebih jelas, ambil contoh mata pelajaran Sosiologi. Mata pelajaran Sosiologi adalah mata pelajaran diberikan sejak kelas XI, XII dan XII. Selain itu Sosiologi salah satu mata Ujian Nasional.
Pokok bahasan Sosiologi kelas X adalah :
Mengenal Sosiologi
Penelitian Sosial
Interaksi Sosial
Nilai Norma Sosial
Sosialisasi dan Pembentuk Kepribadian
Perilaku Menyimpang
Pengendalian Sosial
Lalu pokok bahasan Sosiologi kelas XI ialah:
Struktur Sosial
Diferensiasi Sosial
Stratifikasi Sosial
Konflik Sosial
Kelompok Sosial
Masyarakat Multikultural
Kemudian pokok bahasan Sosiologi kelas XII meliputi:
Perubahan Sosial
Dampak Perubahan Sosial
Lembaga Sosial
Rancangan Penelitian Sosial
Penelitian Sosial
Analisis
Berdasar pokok pokok bahasan tersebut maka dibuatlah soal UN 2014/2015 sejumlah 50 nomor. Tentu soal soal tersebut mengacu pada SKL.
Dari 50 nomor soal dikerucutkan dalam beberapa sub pokok bahasan. Berdasar pokok pokok bahasan Sosilogi tingkat SMA maka penilaian UN tahun 2014/2015 dibuatlah sub pokok bahasan sebagai berikut ini:
Konsep dan Objek Sosiologi
Sosialisasi dan Nilai Norma Sosial
Penyimpangan dan Pengendalian Sosial
Struktur dan Konflik Sosial
Mobilitas Sosial
Masyarakat Majemuk
Perubahan Sosial
Lembaga Sosial
Penelitian Sosial
Jika dikelompokkan lagi sub pokok bahasan berdasar kelas maka ditemukan :
Kelas X sub pokok bahasannya yaitu
Konsep dan Objek Sosiologi
Sosialisasi dan Nilai Norma Sosial
Penyimpangan dan Pengendalian sosial
Kelas XI sub pokok bahasannya:
Struktur dan Konflik Sosial
Mobilitas Sosial
Masyarakat Majemuk
Kelas XII sub pokok bahasannya:
Perubahan Sosial
Lembaga Sosial
Penelitian Sosial
Tentu tiap sub pokok memiliki jumlah sangat variatif. Berdasar analisis soal UN 2014/2015 didapatkan jumlah soal tiap sub pokok bahasan sebagai berikut:
Pokok bahasan kelas X (1-13)
Pokok bahasan kelas XI (14-27)
Pokok bahasan kelas XII (28-50)
Catatan :
Dengan menyajikan sub pokok bahasan beserta nilainya maka tiap peserta didik dan guru dapat mengetahui sub-sub pokok bahasan yang dikuasai dan yang belum dikuasai.
Maka dapat terpetakan materi materi yang perlu mendapat perhatian baik peserta didik maupun guru.
Itulah keunggulan pelaksanaan UN 2014/2015 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dengan demikian semoga metode tersebut tetap dilaksanakan ditahun tahun selanjutnya.
*) Kukuh Widijatmoko, M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang
Wednesday, March 2, 2016
240 Mendalami Soal Model Pilihan Ganda
Mendalami Soal Model Pikihan Ganda
Model soal pilihan ganda bisa dikelompokan menjadi beberapa tipe. Tipe uraian, tipe gambar, tipe pernyataan, tipe tabel.
Tipe uraian, berarti komponen soal memuat deskripsi atau penjelasan atau uraian terkait dengan pokok bahasan. Lalu ada soal atau pertanyaan.
Tipe gambar, berarti komponen gambar atau visual bisa skema atau jenis lainnya tersedia yang terkait dengan pokok bahasan. Kemudian pada tertera petunjuk, pernyataan yang seesuai dengan maksud gambar.
Tipe pernyataan, berarti tersedia beberapa pernyataan. Setelah itu, ada petunjuk untuk mengerjakan sesuai dengan pernyataan yang tersedia.
Tipe tabel, tipe ini memang disediakan beberapa kolom dan lajur atau model grafik, diagram atau jenia lainnya. Terisi angka angka. Lalu, tersedia pula petunjuk pengerjaan.
A. Tipe Uraian
Ketika para siswa hendak mengadakan widyawisata, terjadilah perbedaan pendapat dalam menentukan obyek. Untuk mencapai mufakat diadakan voting. Contoh penyelesaian konflik tersebut termasuk bentuk akomodasi...
A. Subjugation
B. Stalemate
C. Majority rule
D. Elimination
E. Integration
Kompetensi tipe uraian
Peserta didik mampu mengidentifikasi penjelasan/deskripsi.
Peserta didik mampu menghubungkan pokok bahasan dengan penerapan sehari hari
Peserta didik mampu menyimpulkan dengan memilih jawaban yang tepat
B. Tipe Gambar
Perhatikan dengan gambar dibawah ini
Berdasarkan gambar diatas, menunjukkan bahwa mereka meninggalkan rumah masung masing untuk melakukan kegiatan berdasarkan nilai sosial ....
A. Material
B. Estetika
C. Rohaniah
D. Vital
E. Hukum
Kompetensi tipe gambar
Peserta didik mampu menginterpretasi gambar sesuai dengan deskripsi
Peserta didik mampu menganalisis gambar dan pertanyaan
Peserta didik mampu menyimpulkan dengan memilih jawaban yang tepat.
C. Tipe Pernyataan
Perhatikan pernyataan berikut!
1. Dikenakan hukuman kurungan
2. Dikucilkan dari masyarakatnya
3. Gosip lisan secara luas
4. Diharuskan membayar denda berupa uang atau barang
Pernyataan tersebut yang termasuk jenis pengendalian sosial yang berlaku pada masyarakat tradisional adalah nomor...
A. 1 dan 2
B. 1 dan 3
C. 2 dan 3
D. 2 dan 4
E. 3 dan 4
Kompetensi tipe pernyataan:
Peserta didik mampu memilah pernyataan
Peserta didik mampu memilah pernyataan
Peserta didik mampu menggabungkan beberapa pernyataan yang sesuai dengan pertanyaan/perintah
D. Tipe Tabel
Perhatikanlah tabel berikut ini
Perilaku siswa beraneka macam. Ada yang taat terhadap peraturan sekolah dan ada perilaku yang melanggar norma sekolah. Berdasarkan data pelanggaran siswa kelas XII IPS 1 SMA Generasi Anak Bangsa, manakah pernyataan dibawah ini yang benar :
A. Anak kelas XII IPS 1 nakal
B. Anak perempuan paling banyak melanggar
C. Anak perempuan lebih rajin sekolah
D. Anak laki laki lebih rajin ke sekolah
E. Pihak sekolah harus beetindak tegas
Kompetensi tipe tabel
Peserta didik mampu mengidentifikasi tiap kolom dan lajur sesuai dengan tabel
Peserta didik mampu menginterpretasi tabel
Peserta didik mampu memecahkan masalah
*) Kukuh Widijatmoko M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang
Model soal pilihan ganda bisa dikelompokan menjadi beberapa tipe. Tipe uraian, tipe gambar, tipe pernyataan, tipe tabel.
Tipe uraian, berarti komponen soal memuat deskripsi atau penjelasan atau uraian terkait dengan pokok bahasan. Lalu ada soal atau pertanyaan.
Tipe gambar, berarti komponen gambar atau visual bisa skema atau jenis lainnya tersedia yang terkait dengan pokok bahasan. Kemudian pada tertera petunjuk, pernyataan yang seesuai dengan maksud gambar.
Tipe pernyataan, berarti tersedia beberapa pernyataan. Setelah itu, ada petunjuk untuk mengerjakan sesuai dengan pernyataan yang tersedia.
Tipe tabel, tipe ini memang disediakan beberapa kolom dan lajur atau model grafik, diagram atau jenia lainnya. Terisi angka angka. Lalu, tersedia pula petunjuk pengerjaan.
A. Tipe Uraian
Ketika para siswa hendak mengadakan widyawisata, terjadilah perbedaan pendapat dalam menentukan obyek. Untuk mencapai mufakat diadakan voting. Contoh penyelesaian konflik tersebut termasuk bentuk akomodasi...
A. Subjugation
B. Stalemate
C. Majority rule
D. Elimination
E. Integration
Kompetensi tipe uraian
Peserta didik mampu mengidentifikasi penjelasan/deskripsi.
Peserta didik mampu menghubungkan pokok bahasan dengan penerapan sehari hari
Peserta didik mampu menyimpulkan dengan memilih jawaban yang tepat
B. Tipe Gambar
Perhatikan dengan gambar dibawah ini
Berdasarkan gambar diatas, menunjukkan bahwa mereka meninggalkan rumah masung masing untuk melakukan kegiatan berdasarkan nilai sosial ....
A. Material
B. Estetika
C. Rohaniah
D. Vital
E. Hukum
Kompetensi tipe gambar
Peserta didik mampu menginterpretasi gambar sesuai dengan deskripsi
Peserta didik mampu menganalisis gambar dan pertanyaan
Peserta didik mampu menyimpulkan dengan memilih jawaban yang tepat.
C. Tipe Pernyataan
Perhatikan pernyataan berikut!
1. Dikenakan hukuman kurungan
2. Dikucilkan dari masyarakatnya
3. Gosip lisan secara luas
4. Diharuskan membayar denda berupa uang atau barang
Pernyataan tersebut yang termasuk jenis pengendalian sosial yang berlaku pada masyarakat tradisional adalah nomor...
A. 1 dan 2
B. 1 dan 3
C. 2 dan 3
D. 2 dan 4
E. 3 dan 4
Kompetensi tipe pernyataan:
Peserta didik mampu memilah pernyataan
Peserta didik mampu memilah pernyataan
Peserta didik mampu menggabungkan beberapa pernyataan yang sesuai dengan pertanyaan/perintah
D. Tipe Tabel
Perhatikanlah tabel berikut ini
Perilaku siswa beraneka macam. Ada yang taat terhadap peraturan sekolah dan ada perilaku yang melanggar norma sekolah. Berdasarkan data pelanggaran siswa kelas XII IPS 1 SMA Generasi Anak Bangsa, manakah pernyataan dibawah ini yang benar :
A. Anak kelas XII IPS 1 nakal
B. Anak perempuan paling banyak melanggar
C. Anak perempuan lebih rajin sekolah
D. Anak laki laki lebih rajin ke sekolah
E. Pihak sekolah harus beetindak tegas
Kompetensi tipe tabel
Peserta didik mampu mengidentifikasi tiap kolom dan lajur sesuai dengan tabel
Peserta didik mampu menginterpretasi tabel
Peserta didik mampu memecahkan masalah
*) Kukuh Widijatmoko M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang
Subscribe to:
Posts (Atom)










