Monday, March 28, 2016

253 Mendalami Struktur Penilaian Kinerja Guru



Salah satu konsekuensi bahwa guru adalah profesi maka guru perlu diuji keprofesionalannya. Cara untuk menguji ialah melakukan penilaian kinerja guru.

Berikut pandangan analisis terhadap penilaian kinerja guru. Struktur Penilaian Kinerja Guru terdiri dari Indikator, Sub-Indikator dan Rubrik.




Ada 14 Indikator yang nantinya dikorelasikan dengan sub-indikator dan rubrik.

Adapun indikator tersebut afalah sebagai berikut :
1) menguasai karakteristik peserta didik
2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik
3) pengembangan kurikulum
4) kegiatan belajar yang mendidik
5) pengembangan potensi peserta didik
6) komunikasi dengan peserta didik
7) penilaian dan evaluasi
8) bertindak sesuai norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional
9) menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan
10) etos kerja, tanggung jawab yang tinggi dan rasa bangga menjadi seorang guru
11) bersikap inklusif, bertindak objektif serta tidak diskriminatif
12) komunikasi dengan sesama guru, tenaga pendidik, orang tua peserta didik, dan masyarakat
13) penguasaan materi, struktur, konsep fan pola pikir keilmuwanyang mendukung mata pelajaran yang diampu
14) pengembangan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif


Guru dalam aktifitas melekat dalam tiga wilayah. Ketiga wilayah itu ialah Lingkungan Sosial, Peserta Didik dan Diri Guru.

Guru dalam aktifitas tidak hanya didalam kelas semata melainkan juga diluar kelas, baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat dan kemasyarakatan.

Guru dalam aktifitasnya memiliki keterikatan dengan peserta didik. Maka guru perlu memperhatikan tumbuh kembang peserta didik, guru perlu memikirkan pendekatan secara individu juga menjalin komunikasi dengan orang tua murid.

Guru dalam aktivitasnya juga memperhatikan kemajuan dan perkembangan diri sendiri. Guru wajib memperhatikan sisi pengembangan diri sendiri dalam bidang akademik maupun non akademik.


Untuk memperjelas Guru beraktifitas dengan ketiga wilayah yang dipertajam dalam sub-indikator dan rubrik berikut ini.

Guru dengan Lingkungan Sosial terdapat dalam indikator :
3) pengembangan kurikulum (indikator ini dipertajam dalam 4 sub-indikator dan 13 rubrik)
8) bertindak sesuai norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional (indikator ini dipertajam dalam 5 sub-indikator dan  5 rubrik)
12) komunikasi dengan sesama guru, tenaga pendidik, orang tua peserta didik, dan masyarakat (indikator ini dipertajam dalam 3 sub-indikator dan 4 rubrik)

Melalui data diatas Guru dengan Lingkungan Sosial dibahas dalam 3 indikator dan dipertajam dalam 12 sub-indikator dan 22 rubrik.

Guru dengan Peserta Didik terdapat dalam indikator :
1) menguasai karakteristik peserta didik (indikator ini dipertajam dalam 6 sub-indikator dan 6 sub-indikator dan 17 rubrik)
2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik (indikator ini dipertajam dalam 6 sub-indikator dan 11 indikator)
4) kegiatan belajar yang mendidik (indikator ini dipertajam dalam 11 sub-indikator dan 16 rubrik)
5) pengembangan potensi peserta didik (indikator ini dipertajam dalam 7 sub-indikator dan 14 rubrik)
6) komunikasi dengan peserta didik (indikator ini dipertajam dalam 6 sub-indikator dan  14 rubrik)
7) penilaian dan evaluasi (indikator ini dipertajam dalam 5 sub-indikator dan 5 rubrik)
11) bersikap inklusif, bertindak objektif serta tidak diskriminatif (indikator ini dipertajam dalam 3 sub-indikator dan 9 rubrik)

Maka dari diatas didapatkan data tujuh indikator dipertajam dalam 44 sub-indikator dan 86 rubrik.

Guru dengan Diri Guru terdapat dalam indikator :
9) menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan (indikator inindipertajam dalam 5 sub-indikator dan 7 rubrik)
10) etos kerja, tanggung jawab yang tinggi dan rasa bangga menjadi seorang guru (indikator ini dipertajam dalam 8 sub-indikator dan 20 rubrik)
13) penguasaan materi, struktur, konsep fan pola pikir keilmuwanyang mendukung mata pelajaran yang diampu (indikator ini dipertajam dalam 3 sub-indikator dan 4 rubrik)
14) pengembangan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif (indikator ini dipertajam 6 sub-indikator dan 11 rubrik)

Maka Guru dengan Diri Sendiri dibahas dalam 4 indikator dipertajam dalam 22 sub-indikator dan 42 rubrik.

Untuk memperoleh gambaran konstruksi Penilaian Kinerja Guru dapat dibuat dalam 3 diagram beserta prosentase pembagian wilayah Guru dengan Lingkungan Sosial, Guru dengan Peserta Didik dan Guru dengan Diri Guru.
Gambar 1


Gambar 2


Gambar 3


Kesimpulan
1. Prosentase terbesar adalah Guru dengan Peserta Didik akibat positifnya peserta Didik mendapat bagian terbanyak dalam perhatian Guru, akibat negatifnya Guru terasing dengan lingkungan sosial terlebih dirinya sendiri.
2. Prosentase terkecil adalah Guru dengan Lingkungan Sosial akibat positifnya guru bagian terbesar dirinya untuk sekolah dan peserta didik, akibat negatifnya guru terasing dengan lingkungan sosial dimana dia berada dan hidup.
3. Berdasar prosentase nampak jelas bahwa guru kurang banyak waktu untuk diri sendiri, akibatnya guru merasa asing dengan diri sendiri dan akhirnya guru tidak mengenal diri sendiri.

Itulah beberapa pandangan tentang penilaian kinerja guru. Semoga bermanfaat bagi siapa pun.

*) Kukuh Widijatmoko, M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang



Monday, March 21, 2016

252 Catatan Kritis Rubrik Penilaian Kinerja Guru / Matpel


Musim penilaian kinerja guru sedang berjalan. Tidak sedikit guru mengalami demam. Demam bukan karena begitu ribet kelengkapan administrasi tetapi ada jeritan tak bersuara dari guru.

Demam Administrasi
Sebab demam secara admibistrasi disebabkan oleh indikator penilaiannya begitu mengerikan. Ada empatbelas indikator, perhatikan hal berikut ini:

1) menguasai karakteristik peserta didik
2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik
3) pengembangan kurikulum
4) kegiatan belajar yang mendidik
5) pengembangan potensi peserta didik
6) komunikasi dengan peserta didik
7) penilaian dan evaluasi
8) bertindak sesuai norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional
9) menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan
10) etos kerja, tanggung jawab yang tinggi dan rasa bangga menjadi seorang guru
11) bersikap inklusif, bertindak objektif serta tidak diskriminatif
12) komunikasi dengan sesama guru, tenaga pendidik, orang tua peserta didik, dan masyarakat
13) penguasaan materi, struktur, konsep fan pola pikir keilmuwanyang mendukung mata pelajaran yang diampu
14) pengembangan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif

Ada empat belas indikator penilaian Kinerja Guru, tiap indikator dibagi menjadi beberapa rubrik. Dari empat belas indikator dibagi dalam sub-indikator, minimal tiga sub-indikator dan paling banyak sebebelas sub-indikator.

Sub-indikator paling sedikit ialah Indikator Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif. Dari tiga sub-indikator, dua subjek penilaian, peserta didik; satu subjek penilaian, teman sejawat.

Sub-indikator paling sedikit, kedua ialah Indikator Komunikasi dengan sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua peserta didik, dan masyarakat. Dari ketiga sub-indikator memiliki cakupan luas yaitu menyampaikan informasi tentang peserta didik kepada orang tuanya, aktif pada kegiatan diluar persekolahan  dan yang dilaksanakan oleh masyarakatan (bukti ikut serta), dan aktif kegiatan sosial kemasyarakatan (bukti keaktifan).

Sub-indikator paling sedikit ketiga ialah Penguasaan materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung pelajaran yang diampu. Terdiri atas, membuat pemetaan standar kompetensi, menyertakan informasi yang up to date, menyusun materi yang mutahir.

Tiga sub-indikator paling sedikit saja dapat terpetakan gambarannya guru ideal dalam hal penguasaan materi, partisipasi aktif di sekolah-masyarakat, penjaga pintu keadilan dalam penilaian peserta didik.

Itu yang paling sedikit, lalu bagaimana dengan sub-indikator paling banyak?

Indikator ini memiliki sebelas sub-indikator, Kegiatan belajar yang mendidik. Kesebelas sub-indikator ialah pembelajaran sesuai dengan RPP, PBM membantu belajar, mengkomunikasikan hal baru, menyikapi kesalahan peserta didik sebagai proses, PBM sesuai kurikulum dan dikaitkan  dalam keseharian, pembelajaran bervariasi dalam waktu yang cukup, mengelola kelas secara efektif, mampu beradaptasi diri terhadap kondisi kelas, guru memberi kesempatan peserta didik bertanya-praktek-interaksi, PBM sistematis, dan guru menggunakan alat bantu mengajar.

Memetakan Rubrik
Berdasar empat belas Indikator Rubrik Penilaian Kinerja Guru dikelompokkan dalam tiga relasi, Relasi Guru dengan Peserta Didik, Relasi Guru dengan Lingkungan Sosial dan Relasi Guru dengan Guru (Diri).



Tiap kelompok memiliki irisan dengan dengan kelompok lain dan ketiga kelompok memiliki irisan yang sama.

Indikator penilaian kinerja Guru bersentuhan langsung terhadap peserta didik pada indikator nomor 1, 2, 4, 5, dan 6. Memiliki irisan pada indikator nomor 9, 11.

Indikator penilaian kinerja Guru beririsan dengan Lingkungan Sosial pada indikator nomor 8.

Indikator penilaian kinerja Guru langsung bersentuhan dengan diri sendiri ada pada indikator nomor 10, 13, dan 14.

Penilaian kinerja Guru memiliki irisan antara peserta didik dengan lingkungan sosial ada pada indikator nomor 8.

Dan ketiganya memiliki irisan yang sama ada pada indikator nomor 12.

Nampak jelas bahwa porsi terbanyak penilaian pada indikator guru terhadap peserta didik, lalu terbanyak kedua adalah guru terhadap dirinya sendiri. Sementara, indikator penilaian guru terhadap lingkungan sosial, sangat minim.

Artinya guru diminta agar banyak berorientasi pada peserta didik sementara guru mengambil jarak dengan lingkungan sosial. Ini sungguh memprihatinkan. Guru tercerabut dari lingkungan sosial, namun perbanyak waktu perhatianmu pada peserta didik. Sangat kontradiksi.

Ketika dihitung hitung indikator dan rubrik maka sungguh mengejutkan. Jumlah indikator penilaian kinerja ada sejumlah tujuh puluh delapan lalu ada seratus limapuluh rubrik.

Begitu menyesakkan bagi guru menyelesaikan tujuhpuluh delapan indikator masih ditambah menghadapi seratus limapuluh rubrik.

Dari gambaran dan uraian diatas nampak jelas bahwa Rubrik Penilaian Kinerja Guru mengarahkan Guru agar guru jadi pembentuk peserta didik satu-satunya.

Muncul pertanyaan, bagaimana guru mengambil porsi orang tua? Apa penjelasannya? Bagaimana guru berperan sebagai orang tua bagi anaknya?

Sungguh memilukan kinerja guru!

*) Kukuh Widijatmoko, M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang

Sunday, March 20, 2016

251 Guru (pun) Wajib Belajar!



Proses belajar mengajar adalah kegiataan interaksi guru memberikan pengajaran dan peserta didik menerima pengajaran

Sosok Guru merupakan pribadi strategis. Guru memiliki kemampuan menggerakkan, menumbuhkan atau mematikan peserta didik. Guru menghadapai berbagai karakter  peserta didik.

Peserta didik memiliki berbagai elemen mental, psikologi, kinestetik, sosial, spiritual, intelektual, pola pikir. Proses belajar mengajar selain mempelajari ilmu pengetahuan juga menyentuh beberapa elemen diatas.

Proses belajar mengajar bertujuan mengerakan, menumbuhkan, mengembangkan elemen-elemen diatas, bukan sebaliknya, mematikan. Peserta didik bisa bergerak, bertumbuh, berkembang jika guru berkarakter dinamis. Tapi jika peserta didik tidak mengalami ketiga hal tersebut, maka guru tersebut berkarakter monoton.

Guru dan peserta didik akan dapat menentukan karakter pribadi.

Guru secara umum terbagi menjadi dua, Guru Dinamis dan Guru Monoton.

Pengajar Dinamis
1). Terus belajar hal baru
2). Memberi pandangan objektif
3). Memberi solusi alternatif
4). Peserta didik sebagai anggota tim
5). Saling melengkapi antara guru-peserta didik
6). Berpikir positif terhadap perubahan
7). Senang membuat peserta didik berhasil

Pengajar Monoton
1). Merasa ilmu pengetahuannya sudah cukup
2). Memberi pandangan secara subjektif
3). Menyudutkan terhadap tiap masalah
4). Peserta didik sebagai subordinat
5). Guru pelit terhadap ilmunya
6). Menutup diri terhadap peruperubahan.
7). Mempersulit peserta didik

Uraian diatas memberikan sedikit pencerahan bahwa yang mesti belajar bukan hanya peserta didik melainkan guru pun wajib belajar demi peserta didik terlebih pengembangan pribadi guru sendiri.

*) Kukuh Widijatmoko, M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang

Friday, March 18, 2016

250 Strategi Menjawab Soal UN



Ujian Nasional merupakan topik hangat beberpa minggu lalu dan menjadi topik panas. Panas karena membuat pihak terlibat langsung mengalami kekalutan.

Pihak guru mencari dan menggunakkan berbagai cara agar peserta didik dalam waktu singkat memahami dan tepat memilih jawaban soal UN. Tidak ketinggalan kepala sekolah pun merapatkan barisan dengan mengumpulkan guru mata pelajaran UN.

Kepala sekolah menghimbau kepada guru UN untuk "menyiapkan" peserta didik berhasil menjawab soal soal UN. Komunikasi intensif dilaksanakan antara kepala sekolah dengan guru. Apa kesulitan peserta didik, apa yang perlu ditambah agar berhasil UN tahun ini.

Kondisi peserta didik kelas XII saat ini mengalami tekanan batin, kekalutan, dan kehilangan percaya diri. Berdasar kemampuan peserta didik baik. Berdasar penyampaian materi lebih dari cukup. Kesehatan jasmani, baik. Lalu, apa persoalan peserta didik?

Otak kiri peserta didik menuju kepenuhan materi dan latian latian soal. Tekanan dari guru, sedikit ancaman jika nilai jelek oleh pihak sekolah. Tentu situasi berdampak pada kejiwaan dan psikologi.

Dampak kejiwaan secara kasat mata dapat dilihat dalam kelas, peserta didik berada pada tingkat stres, daya tahun tubuh menurun, sulit tidur, kalut, bingung dan mudah jatuh sakit.

Pola pikir bahwa soal soal UN sulit, nanti nikai UN jelek, tidak lulus UN, dan akhirnya mengulang UN banyak menghantui peserta didik. Memang secara ilmiah belum ada penelitian tentang dampak UN terhadap kejiwaan dan paikologis peserta didik.

Satu hal bahwa peserta didik lebih ditekankan pada sisi lemahnya, kurang ini, kurang itu, bukan digarap sisi keunggulannya. Hal ini membuat peserta didik minder, tidak berdaya terhadap soal. Peserta didik menjadi was was, khawatir. Setelah itu, pikiran kalut.
Materi yang sudah dipunyai latian soal hilang dalam sekejab. Berikutnya, tidak mampu membaca soal UN dengan cermat. Lalu, tidak mengerti apa yang dimaui soal UN. Jika sudah pada tahap tidam mengerti soal maka dipastikan sulit menentukan pilihan jawaban yang tepat.

Maka perlu membangun pola pikir bahwa perlu pendekatan pentingnya memahami soal, pentingnya membangun kesadaran bahwa "aku bisa mengerjakan soal dengan baik."

Guru lebih mementingkan menambah menambah latian soal semata tanpa memberi refleksi mendalam kepada peserta didik. Guru hanya menyampaikan nilaimu naik, nilaimu turun. Tidak membangun kesadaran kamu lebih mampu dari soal, kamu bisa mengendalikan soal.

Guru perlu melatih pola pikir pendekatan terhadap soal. Pendekatan soal artinya melatih mengupas soal secara runtut, tajam dan akurat. Sehingga peserta didik tidak hanya sekedar menjawab soal saja melainkan mengedepankan pola pikir strategis.

Sosiologi merupakan mata pelajaran berlabelkan sulit bagi peserta didik. Materinya susah dipahami, soalnya sulit dikerjakan, pilihan jawaban mirip-mirip. Label label tersebut tidak salah, tapi ada cara untuk melakukan pendekatan terhadap soal UN.

Cara pendekatan dengan melatih pola pikir sebagai berikut :
1. Baca soal secara seksama dan akurat
Soal UN berjumlah 50 nomor. Kebiasaan mengengerjakan soal, langsung tancap gas, menjawab soal soal. Tapi dampaknya energi makin berkurang saat nomor soal 30 ke atas. Maka soal 31-50 energi makin menurun. Dan, sikapnya kalang kabut. Untuk itu, baca soal nomor 1-50 terlebih dahulu. Sambil membaca, tiap nomor diberi penilaian,... Soal sulit, sedang, dan mudah. Jika sudah selesai membaca semua soal. Baca ulang dengan melakukan sesuai nomor dua.
2. Carilah Kata Kunci
Saat membaca soal secara seksama dan cermat temukan kata kata atau kalimat kunci dalam soal tersebut. Tiap soal pasti ada kata kunci yang bisa membantu memahami soal. Memang tidak selalu kata tapi juga bisa berbentuk kalimat. Jika dalam sudah ditemukan kata kunci maka katankunci tersebut membantu melakukan tahapan selanjutnya.
3. Tentukan Pokok Bahasan
Penemuan kata kunci mempermudan ingatan pada pokok bahasan atau materi. Kata kunci tersebut termasuk dalam pokok bahasan kelas X, XI atau XII. Setelah ketemu pokok bahasan kelasnya disambung ke materi yang mana dari kelas tersebut. Jika sudah ditemukan materinya sampailah pada tahap ....
4. Yang Ditanyakan
Tahap ini peserta didik perlu membaca dengan cermat tentang yang menjadi pertanyaan atau yang ditanyakan. Tahap ini penting agar pola pikir bisa diarahkan untuk menentukan yang dimau, yang diinginkan soal ini apa. Maka tahap berikut ini...
5. Memilah Jawaban
Tahap memiliki tantangan tersendiri. Salah satu tantangannya ialah menwntukan pilihan jawaban dari pilihan A, B C, D, dan E. Pilihannya secara umum mirip mirip. Maka perlu cara untuk mempermudah cara berpikirnya. Caranya dari tersedia tentukan pilihan jawaban yang tidak ada hubungannya. Jika sudah ketemu, dicoret. Lalu, tentu dua pilihan yang memiliki kedekatan dengan pertanyaan. Dari kedua pilihan jawaban lakukan tahapan akhir...
6. Menentukan Pilihan Jawaban

Dari uraian proses berpikir diatas sesungguhnya peserta didik diajak dan dilatih berpikir metodis sistematis. Proses berpikir tersebut tidak hanya meletakkan dasar menjawab soal UN semata tetapi pola pikir tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari.

Sangat disayangkan jika energi pola pikir generasi bangsa hanya dipakai untuk memilih jawaban soal soal UN.
*) Kukuh Widijatmoko, M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang

Thursday, March 17, 2016

249 Pendidik Impian Masa Depan



Tiga ruang kelas, satu lab bahasa, dan satu ruang guru serta kepala sekolah. Madrasah swasta yang kecil dengan tenaga pendidik yang minim tidaklah menjadi kendala untuk berprestasi. Pada tahun ajaran kali itu jumlah siswa yang mendaftar sangatlah memprihatinkan, hanya 15 orang siswa di kelasku termasuk aku. Entahlah.. banyak orang tua yang enggan menyekolahkan anak-anak mereka ke Madarasah. Berbeda dengan orang tuaku yang sedikit memaksa aku untuk bersekolah di Madrasah, selain lebih banyak mendapat ilmu agama, orang tua ku juga kurang mampu untuk menyekolahkan aku ke sekolah Negeri dengan biaya yang terbilang mahal bagi kami. Namun, tak ku sesali karena ternyata di sekolah yang kecil dengan segala fasilitas yang terbatas itulah aku meraih puncak prestasi akademik ku.
Yaa.. prestasiku memang terlihat sejak aku duduk di kelas VII. Prestasi yang aku katakan bukanlah karena jumlah siswa di kelas ku yang sangat sedikit. Justru persaingan kami di kelas itu sangat bagus, nilai antar siswa pun tidak terpaut terlalu jauh dan dapat dikatakan bahwa kemampuan kami tidak kalah dengan sekolah-sekolah di luar sana. Matematika. Aku jatuh cinta dengan rumus-rumus matematika. Tentu beralasan kenapa aku sangat menggemari Matematika. Bpk. Sutikno, sosok sederhana yang berpenampilan layaknya tukang kebun itu adalah kesiswaan sekaligus guru Matematika satu-satunya di sekolah kecil tersebut. Guru yang membuat aku jatuh cinta kepada Matematika itu sangat special bagiku bahkan bagi kami satu kelas.
Jika ditanya, apa yang membuat aku terkesan kepada beliau?. Jawabku “sangat banyak”. Dengan jabatan yang terhitung penting di sekolah, tapi beliau tidak canggung untuk berperan sebagai tukang kebun kerena sekolah sekecil itu tidak mampu membayar orang hanya untuk bersih-bersih sekolah yang luasnya juga tak seberapa. Telaten, sabar dan disiplin itulah beliau. Pernah suatu ketika aku di hukum tidak boleh masuk kelas dan berdiri dengan satu kaki di halaman sekolah hanya karena aku tidak memotong kuku,hehee... tetapi kejadian itu membuatku kapok.
Kebanyakan guru Matematika yang aku ketahui selalu menyampaikan materi di dalam kelas dengan penuh keseriusan yang membosankan. Sosok sederhana ini malah sering mengajak anak didiknya belajar di luar kelas seperti yang sering guru bahasa indonesia lakukan. Kekreatifan beliau tidak berhenti disitu. Rumus Matematika yang jika dilihat saja sudah membuat pusing kepala akan mudah di ingat ketika rumus-rumus rumit tersebut berada dalam gambar yang menarik. Seperti dimasukkan ke dalam gambar struktur tubuh manusia, kepala manusia digambar dengan bentuk bulat di dalam tertulis rumus volume bola, bagian telinga dengan bentuk segi tiga yang mengandung rumus luas dan seterusnya. Begitulah cara yang beliau agar rumus yang sulit dan membosankan menjadi hal yang menarik serta mudah dipelajari.
Di sekolah kecil itu aku banyak belajar. Tidak hanya pelajaran pada umumnya dan pengajaran keagamaan yang ketat akan tetapi juga bekal jika nantinya aku akan seperti mereka “pendidik”. Ketulusan dan keikhlasan haruslah tertanam dalam diri seorang pendidik. Seperti mereka guruku, yang setiap hari menempuh perjalanan 2-4km sama dengan kami. Mereka berjalan setiap hari demi mencerdaskan anak bangsa dengan upah yang tak seberapa. Hanya 3orang guru yang memiliki motor untuk transportasi, bahkan kepala sekolah kami pun menempuh perjalanan dengan jalan kaki.
Indah tak harus megah, berilmu belum tentu bermutu
“Dimanapun dan di tempat seperti apapun kita menempuh ilmu akan kembali pada diri kita sendiri dan sebaik baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat untuk orang lain”
*) AYU WULANDARI (120401080041)
Mahasiswa Universitas Kanjuruhan
Malang

250 Perihal Guru dan Pengelolaan Kelas


     Semasa sekolah pernah ngga sih, ada salah satu teman kalian yang mengeluh dengan suasana kelas yang tidak kondusif atau ada beberapa guru yang tidak mampu menciptakan suasana kelas yang dapat menunjang proses belajar kalian? Kebayangkan bagaimana rasanya jika kelas yang seharusnya mampu membuat kita nyaman atau bahkan membuat kita semangat dalam menuntut ilmu justru berbalik membuat kita rasanya ingin kabur dari kelas. Bahkan bukan hanya faktor itu saja yang menjadi batu sandungan keberhasilan proses belajar dalam kelas. Namun yang akan kita bahas kali ini bukan tentang apa saja faktor penghambat proses belajar di dalam kelas yah teman-teman, kita akan lebih memfokuskan dengan guru yang jabatannya sebagai pendidik dengan keberhasilannya dalam mengelola kelas. Karena peran guru dalam keberhasilan belajar siswa memiliki poin penting dibandingkan dengan faktor lainnya. Sebagai siswa yang akan menimba ilmu tentunya memiliki seorang guru yang ramah, sabar serta telaten dalam memberikan pelajaran merupakan sesuatu yang diharapkan, bukan?. Namun pada kenyataanya kita sering menjumpai guru   dengan karakter yang menurut kita kurang tepat jika beliau menyandang predikat pendidik. Misalnya saja seorang guru yang memiliki sifat keras terhadap siswanya atau dalam peram mungkin beliau bisa disebut antagonis, atau guru yang saat dikelas lebih dominan memberikan tugas kemudian beliau duduk, membaca koran atau memainkan gadgetnya tanpa mempedulikan kegaduhan kelas.
     Dari pengalaman saya saat sekolah, menjumpai guru dengan karakter diatas tentunya memiliki dampak bagi kelancaran proses belajar dikelas, bagaimana tidak? Seorang guru yang dijuluki sebagai orang tua disekolah seharusnya mampu mendidik anaknya dalam artian siswanya dengan penuh ketelatenan dan kesabaran serta keikhlasan dalam memberikan pelajaran bukan justru berperan layaknya ibu tiri yang ditakuti dalam sinetron-sinetron. Bagi guru, mendidik siswa dengan banyak karakter tentunya tidak semudah yang dibayangkan. Namun tidak banyak siswa yang mengerti akan hal itu, karena yang difikirkan hanya bagaimana dia dapat belajar dengan baik di kelas dan ditunjang guru yang siap memberikan pelajaran dengan keprofesionalannya. Jika siswa sudah memiliki pemikiran demikian tadi maka tidak heran manakala guru yang memberikan pelajaran tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan maka siswa akan sulit merespon yang disampaikan guru tersebut dan bisa saja siswa meninggalkan kelas. Hal tersebut tentu sangat tidak diharapkan pihak sekolah manapun karena selain merugikan untuk siswa tersebut ini juga akan berdampak pada penilaian masyarakat terhadap sekolah itu. Ini tidak lantas membuat semua pihak menyalahkan guru tersebut karena keberhasilan proses belajar dalam kelas bukan hanya ditentukan oleh seorang guru tetapi ada pihak-pihak lain yang harus bersinergi dengan pihak guru diantaranya siswa itu sendiri.
     Jika hal diatas terjadi disalah satu sekolah, apakah itu berarti guru tersebut gagal dalam mengelola kelas? Lalu bagaimana seharusnya suasana kelas itu agar dapat menciptakan nuansa yang membangkitkan semangat siswa dalam belajar dan menimba ilmu? Jika diteorikan mungkin mudah, pendidik dan peserta didik harus menjalankan hak dan kewajibannya secara baik yaitu pendidik yang memberikan pendidikannya secara profesional serta peserta didik yang bersedia dibimbing atau diarahkan dengan baik oleh pendidik. Namun pada penerapannya sangatlah sulit. Semua komponen haruslah saling mendukung namun jika salah satu komponen berusaha menjadi penghalang kesuksesan dalam kelas maka keberhasilan kelas masih diragukan. Sekarang coba kita menengok kebelakang, mengingat kembali bagaimana kelas kalian dulu? Apakah sudah dapat dikategorikan sukses dengan kamu selalu merasa ingin berada didalam kelas bersama teman-teman yang selalu ingin belajar dan belajar bersama guru kamu? karena bukan hanya guru saja menjadi faktor keberhasilan kelas, siswapun berperan penting dalam pengelolaan kelas agar tercipta keberhasilan dalam proses belajar.
    Dari apa yang sudah kita bahas, lalu sebenarnya bagaimana seorang guru harus bersikap selayaknya seorang pendidik? Berdasarkan buku profesi keguruan karangan Prof.Soetjipto dan Drs. Raflis Kosasi, M.Sc menyatakan bahwa seorang guru atau pendidik harus memiliki dan mengembangkan sikap profesional dengan cara meningkatkan penhetahuan, sikap, dan keterampilan secara terus menerus.Di dalam buku ini juga menjelaskan bagaimana guru harus bersikap terhadap anak didiknya seperti yang menjadi semboyan dalam pendidikan yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani yang memiliki arti bahea pendidikan harus dapat memberi contoh, harus dapt memberikan pengaruh, dan harus dapat mengendalikan peserta didik. Tugas ini tentunya tidak mudah karena guru yang sejatinya menjadi orang tua disekolah harus mampu mencerdaskan bukan hanya dalam hal intelektualnya tetapi juga dalam sikap dan perilakunya. Seorang guru memang mengemban tugas yang berat maka tidak heran jika mereka dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa.
     Dari keseluruhan yang sudah kita bahas maka kita dapat menyimpulkan bahwa keberhasilan proses belajar ditunjang bukan hanya dari pihak guru saja tetapi siswa juga memiliki peran yang penting. Mengapa keberhasilan atau pngelolaan kelas perlu kita bahas karena ini penting untuk meningkatkan semangat belajar siswa dalam menerima pelajaran dari guru serta meningkatkan prestasi siswa. Mengingat profesi guru tidaklah mudah maka sebagai anak didiknya kita patut menghormati dan menghargai beliau. Selama tidak menyalahgunakan profesimya sebagai pendidik maka kita wajib mematuhinya. Dalam pendidikan tidak ada yang namanya saling menyalahkan tetapi yang ada justru saling mendukung demi terciptanya pendidikan dengan kualitas terbaik.

*) Tipah Apriyani
150401080008
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Kanjuruhan
Malang

248 Memanfaatkan Kesempatan Dalam Kesempitan


     Belajar bahasa asing, termasuk bahasa Inggris terkadang memang sulit karena bukan bahasa sehari-hari. Banyak siswa yang "takut" akan mata pelajaran yang satu ini, terutama siswa SMP yang masih minin akan pengalaman berbahasa Inggris. Takut salah grammar, takut beda dengan buku dan sebagainya, itulah alasan yang sering dijumpai. Sehingga kegiatan belajar menjadi tidak nyaman. Sejatinya belajar bahasa asing merupakan hal yang menyenangkan jika kita merasa nyaman dan tidak takut salah.
     Namun, kebanyakan guru tidak menerapkan sistem "enjoy" dalam belajar. Mereka, para guru menekankan siswa harus bisa berbahasa Inggris yang baik, tidak asal nyeplos. Hal tersebut sering membebani siswa, sehingga banyak siswa yang merasa kurang jika hanya belajar di kelas saja. Akhirnya para siswa banyak yang memilih pelajaran tambahan alias les di luar jam sekolah. Kebetulan pada saat itu guru yang mengajar mata pelajaran bahasa Inggris di kelas saya membuka les di rumahnya yang berjarak tidak jauh dari sekolah. Banyak teman-teman saya ataupun teman dari kelas lain yang mengikuti les tersebut. Hasilnya memang terlihat, nilai-nilai mereka naik menjadi rata-rata delapan dari yang sebelumnya kurang dari lima. Begitupun saat ulangan harian, siswa yang mengambil les sama sekali tidak ada yang remidi, sebaliknya siswa yang tidak les rata-rata harus remidi kecuali mereka yang dianugrahi otak cemerlang. Usut punya usut, ternyata siswa les tidak hanya mendapat latihan soal, tetapi juga mendapat soal ulangan harian yang akan diujikan keesokan harinya. Alhasil mereka mengerjakan ulangan harian tanpa hambatan karena sudah mempelajari soal di rumah dan nilai mereka pun hampir sempurna. Karena merasa kasihan, siswa les membocorkan soal ulangan kepada siswa tidak les agar sama-sama mendapat nilai bagus. Namun, kejadian tersebut tercium oleh guru bahasa Inggris tersebut selaku pemberi les. Akhirnya siswa les dilarang membocorkan soal ulangan kepada siswa tidak les. Larangan tersebut berbuah manis bagi guru tersebut. Siswa yg sebelumnya tidak les akhirnya turut les karena merasa kesulitan mengerjakan ulangan. Namun, ada beberapa siswa yang keukeuh tidak mau ikut les walaupun nilainya pas-pasan karena menganggap ikut les sama saja dengan membeli soal ulangan.
     Fenomena tersebut seharusnya tidak boleh terjadi. Jika siswa tidak bisa dalam proses belajar maka guru harus membimbing siswa dengan sabar hingga siswa tersebut mengalami kemajuan. Guru harus mengutamakan kepentingan layanan di atas keuntungan pribadi. Karena jika seseorang memilih guru sebagai profesinya, maka seseorang harua siap mengabdi. Agar siswa bisa menangkap pelajaran dengan baik walau mata pepajarannya sulit, maka guru harua menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar, sesuai dengan kode etik guru Indonesia. Jika siswa memang lamban dalam hal menangkap pelajaran, guru boleh saja memberikan pelajaran tambahan seusai sekolah. Boleh saja guru meminta upah sebagai ganti waktu, tapi tentu saja tidak boleh menjual soal seperti kasus di
     Jabatan guru telah terkenal secara universal sebagai suatu jabatan yang anggotanya termotivasi oleh keinginan untuk membantu orang lain, bukan disebabkan oleh keuntungan ekonomi atau keuangan. Kebanyakan guru memilih jabatan ini berdasarkan apa yang dianggap baik oleh mereka yakni memdapatkan kepuasan rohaniah ketimbang kepuasan ekonomi atau lahiriah (Soetjipto dan Raflis, 2011:24). Dengan kata lain guru tidak boleh memanfaatkan keadaan untuk keuntungan pribadi. Basuni (dalam Soetjipto dan Raflis, 2011:30) selaku ketua umum PGRI menyatakan bahwa Kode Etik Guru Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku guru warga PGRI dalam melaksanakan panggilan pengabdiannya bekerja sebagai guru.
     Pepatah mengatakan, guru kencing berdiri murid kencing berlari. Dari kasus diatas dikhawatirkan jika siswa kelak menjadi guru, akan meniru gurunya yang berbuat kurang terpuji tersebut. Jika seseorang memilih guru sebagai profesinya, maka seseorang harus siap mengabdi untuk mencerdaskan bangsa.
*) Elinda Putri Ariana
S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Kanjuruhan Malang