Bermetodekan Mengamati, Mendokumentasi, Memetakan, dan Menarasikan
Saturday, April 16, 2016
255 Menuju Puncak Diri
Perjalanan ke Surabaya
Singgah di kantor Pak Ignasius Suhartoyo
Para pelajar siap di aula
Persiapan materi
Sambutan Kepala SMPK Stanis Laus 2 Surabaya
Mengupas Diri
Jenis Jenis karakter menuju puncak diri
Membagi media karya
Berkarya
Komitmen Kekuatan Dalam Diri
Selfie bersama pelajar
Sebelum balik Malang salam persaudaraan bersama Kepala SMPK Stanis Laus 2 Surabaya Bapak Igasius Suhartoyo, M. Pd
254 Reintegrasi
1. Definisi Reintegrasi (What)
* Reintegrasi sosial sebagai upaya untuk membangun kembali kepercayaan ,modal sosial, dan kohesi sosial.
*Merupakan suatu proses sosial dalam menyatukan kembali pihak-pihak yang berkonflik.
2. Mengapa diperlukannya Reintegrasi ? (Why)
Karena untuk membangun kembali kepercayaan dari masyarakat yang sedang terlibat konflik,perpecahan,fitnah,curiga.
3.Siapa yang di integrasi ? (Who)
Masyarakat yang terlibat konflik,masyarakat yang mengalami kesenjangan sosial, masyarakat yang bersifat primordialisme.
4. Bagaimana Caranya? (How)
-. Kelanggengan situasi;damai;
-.Meningkatkan toleransi dan rasa saling percaya.
-. Mengupayakan penyelesaian konflik.
-.Penguatan kembali nilai mearifan lokal.
-. Menambah kesadaran akan pentingnya berbangsa dan bertanah air.
5. Apa latar belakang ?
Situasi dimana ada ketidak seimbangan atau ketidak serasian unsur dalam masyarakat karena salah satu unsur dalam sistem masyarakat tidak berfungsi dengan baik.
6. Hambatan.
*Keragaman dan kemajemukan suku bangsa (heterogen)
*Wilayah yang luas
*Diskrimasi
*Besarnya ancaman, tantangan, kesatuan dan kesatuan bangsa.
* Lemahnya nilai budaya bangsa akibat kuatnya pengaruh budaya asing.
7.Unsur yang di integrasi.
¤ Ketidak serasian
¤ Cultural Lag
¤ Perilaku
¤ Tindakan
¤ Sikap
8.Contoh Diintegrasi
~Melalui kompromi antara perwakilan
~Yang berkonflik melakukan perdamaian dan menyadari kesalahan tindakan yang telah di perbuatnya.
Oleh Aulya Putri Intan S
SMAN 1 Lawang
Monday, March 28, 2016
253 Mendalami Struktur Penilaian Kinerja Guru
Salah satu konsekuensi bahwa guru adalah profesi maka guru perlu diuji keprofesionalannya. Cara untuk menguji ialah melakukan penilaian kinerja guru.
Berikut pandangan analisis terhadap penilaian kinerja guru. Struktur Penilaian Kinerja Guru terdiri dari Indikator, Sub-Indikator dan Rubrik.
Ada 14 Indikator yang nantinya dikorelasikan dengan sub-indikator dan rubrik.
Adapun indikator tersebut afalah sebagai berikut :
1) menguasai karakteristik peserta didik
2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik
3) pengembangan kurikulum
4) kegiatan belajar yang mendidik
5) pengembangan potensi peserta didik
6) komunikasi dengan peserta didik
7) penilaian dan evaluasi
8) bertindak sesuai norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional
9) menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan
10) etos kerja, tanggung jawab yang tinggi dan rasa bangga menjadi seorang guru
11) bersikap inklusif, bertindak objektif serta tidak diskriminatif
12) komunikasi dengan sesama guru, tenaga pendidik, orang tua peserta didik, dan masyarakat
13) penguasaan materi, struktur, konsep fan pola pikir keilmuwanyang mendukung mata pelajaran yang diampu
14) pengembangan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif
Guru dalam aktifitas melekat dalam tiga wilayah. Ketiga wilayah itu ialah Lingkungan Sosial, Peserta Didik dan Diri Guru.
Guru dalam aktifitas tidak hanya didalam kelas semata melainkan juga diluar kelas, baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat dan kemasyarakatan.
Guru dalam aktifitasnya memiliki keterikatan dengan peserta didik. Maka guru perlu memperhatikan tumbuh kembang peserta didik, guru perlu memikirkan pendekatan secara individu juga menjalin komunikasi dengan orang tua murid.
Guru dalam aktivitasnya juga memperhatikan kemajuan dan perkembangan diri sendiri. Guru wajib memperhatikan sisi pengembangan diri sendiri dalam bidang akademik maupun non akademik.
Untuk memperjelas Guru beraktifitas dengan ketiga wilayah yang dipertajam dalam sub-indikator dan rubrik berikut ini.
Guru dengan Lingkungan Sosial terdapat dalam indikator :
3) pengembangan kurikulum (indikator ini dipertajam dalam 4 sub-indikator dan 13 rubrik)
8) bertindak sesuai norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional (indikator ini dipertajam dalam 5 sub-indikator dan 5 rubrik)
12) komunikasi dengan sesama guru, tenaga pendidik, orang tua peserta didik, dan masyarakat (indikator ini dipertajam dalam 3 sub-indikator dan 4 rubrik)
Melalui data diatas Guru dengan Lingkungan Sosial dibahas dalam 3 indikator dan dipertajam dalam 12 sub-indikator dan 22 rubrik.
Guru dengan Peserta Didik terdapat dalam indikator :
1) menguasai karakteristik peserta didik (indikator ini dipertajam dalam 6 sub-indikator dan 6 sub-indikator dan 17 rubrik)
2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik (indikator ini dipertajam dalam 6 sub-indikator dan 11 indikator)
4) kegiatan belajar yang mendidik (indikator ini dipertajam dalam 11 sub-indikator dan 16 rubrik)
5) pengembangan potensi peserta didik (indikator ini dipertajam dalam 7 sub-indikator dan 14 rubrik)
6) komunikasi dengan peserta didik (indikator ini dipertajam dalam 6 sub-indikator dan 14 rubrik)
7) penilaian dan evaluasi (indikator ini dipertajam dalam 5 sub-indikator dan 5 rubrik)
11) bersikap inklusif, bertindak objektif serta tidak diskriminatif (indikator ini dipertajam dalam 3 sub-indikator dan 9 rubrik)
Maka dari diatas didapatkan data tujuh indikator dipertajam dalam 44 sub-indikator dan 86 rubrik.
Guru dengan Diri Guru terdapat dalam indikator :
9) menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan (indikator inindipertajam dalam 5 sub-indikator dan 7 rubrik)
10) etos kerja, tanggung jawab yang tinggi dan rasa bangga menjadi seorang guru (indikator ini dipertajam dalam 8 sub-indikator dan 20 rubrik)
13) penguasaan materi, struktur, konsep fan pola pikir keilmuwanyang mendukung mata pelajaran yang diampu (indikator ini dipertajam dalam 3 sub-indikator dan 4 rubrik)
14) pengembangan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif (indikator ini dipertajam 6 sub-indikator dan 11 rubrik)
Maka Guru dengan Diri Sendiri dibahas dalam 4 indikator dipertajam dalam 22 sub-indikator dan 42 rubrik.
Untuk memperoleh gambaran konstruksi Penilaian Kinerja Guru dapat dibuat dalam 3 diagram beserta prosentase pembagian wilayah Guru dengan Lingkungan Sosial, Guru dengan Peserta Didik dan Guru dengan Diri Guru.
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3
Kesimpulan
1. Prosentase terbesar adalah Guru dengan Peserta Didik akibat positifnya peserta Didik mendapat bagian terbanyak dalam perhatian Guru, akibat negatifnya Guru terasing dengan lingkungan sosial terlebih dirinya sendiri.
2. Prosentase terkecil adalah Guru dengan Lingkungan Sosial akibat positifnya guru bagian terbesar dirinya untuk sekolah dan peserta didik, akibat negatifnya guru terasing dengan lingkungan sosial dimana dia berada dan hidup.
3. Berdasar prosentase nampak jelas bahwa guru kurang banyak waktu untuk diri sendiri, akibatnya guru merasa asing dengan diri sendiri dan akhirnya guru tidak mengenal diri sendiri.
Itulah beberapa pandangan tentang penilaian kinerja guru. Semoga bermanfaat bagi siapa pun.
*) Kukuh Widijatmoko, M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang
Monday, March 21, 2016
252 Catatan Kritis Rubrik Penilaian Kinerja Guru / Matpel
Musim penilaian kinerja guru sedang berjalan. Tidak sedikit guru mengalami demam. Demam bukan karena begitu ribet kelengkapan administrasi tetapi ada jeritan tak bersuara dari guru.
Demam Administrasi
Sebab demam secara admibistrasi disebabkan oleh indikator penilaiannya begitu mengerikan. Ada empatbelas indikator, perhatikan hal berikut ini:
1) menguasai karakteristik peserta didik
2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik
3) pengembangan kurikulum
4) kegiatan belajar yang mendidik
5) pengembangan potensi peserta didik
6) komunikasi dengan peserta didik
7) penilaian dan evaluasi
8) bertindak sesuai norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional
9) menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan
10) etos kerja, tanggung jawab yang tinggi dan rasa bangga menjadi seorang guru
11) bersikap inklusif, bertindak objektif serta tidak diskriminatif
12) komunikasi dengan sesama guru, tenaga pendidik, orang tua peserta didik, dan masyarakat
13) penguasaan materi, struktur, konsep fan pola pikir keilmuwanyang mendukung mata pelajaran yang diampu
14) pengembangan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif
Ada empat belas indikator penilaian Kinerja Guru, tiap indikator dibagi menjadi beberapa rubrik. Dari empat belas indikator dibagi dalam sub-indikator, minimal tiga sub-indikator dan paling banyak sebebelas sub-indikator.
Sub-indikator paling sedikit ialah Indikator Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif. Dari tiga sub-indikator, dua subjek penilaian, peserta didik; satu subjek penilaian, teman sejawat.
Sub-indikator paling sedikit, kedua ialah Indikator Komunikasi dengan sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua peserta didik, dan masyarakat. Dari ketiga sub-indikator memiliki cakupan luas yaitu menyampaikan informasi tentang peserta didik kepada orang tuanya, aktif pada kegiatan diluar persekolahan dan yang dilaksanakan oleh masyarakatan (bukti ikut serta), dan aktif kegiatan sosial kemasyarakatan (bukti keaktifan).
Sub-indikator paling sedikit ketiga ialah Penguasaan materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung pelajaran yang diampu. Terdiri atas, membuat pemetaan standar kompetensi, menyertakan informasi yang up to date, menyusun materi yang mutahir.
Tiga sub-indikator paling sedikit saja dapat terpetakan gambarannya guru ideal dalam hal penguasaan materi, partisipasi aktif di sekolah-masyarakat, penjaga pintu keadilan dalam penilaian peserta didik.
Itu yang paling sedikit, lalu bagaimana dengan sub-indikator paling banyak?
Indikator ini memiliki sebelas sub-indikator, Kegiatan belajar yang mendidik. Kesebelas sub-indikator ialah pembelajaran sesuai dengan RPP, PBM membantu belajar, mengkomunikasikan hal baru, menyikapi kesalahan peserta didik sebagai proses, PBM sesuai kurikulum dan dikaitkan dalam keseharian, pembelajaran bervariasi dalam waktu yang cukup, mengelola kelas secara efektif, mampu beradaptasi diri terhadap kondisi kelas, guru memberi kesempatan peserta didik bertanya-praktek-interaksi, PBM sistematis, dan guru menggunakan alat bantu mengajar.
Memetakan Rubrik
Berdasar empat belas Indikator Rubrik Penilaian Kinerja Guru dikelompokkan dalam tiga relasi, Relasi Guru dengan Peserta Didik, Relasi Guru dengan Lingkungan Sosial dan Relasi Guru dengan Guru (Diri).
Tiap kelompok memiliki irisan dengan dengan kelompok lain dan ketiga kelompok memiliki irisan yang sama.
Indikator penilaian kinerja Guru bersentuhan langsung terhadap peserta didik pada indikator nomor 1, 2, 4, 5, dan 6. Memiliki irisan pada indikator nomor 9, 11.
Indikator penilaian kinerja Guru beririsan dengan Lingkungan Sosial pada indikator nomor 8.
Indikator penilaian kinerja Guru langsung bersentuhan dengan diri sendiri ada pada indikator nomor 10, 13, dan 14.
Penilaian kinerja Guru memiliki irisan antara peserta didik dengan lingkungan sosial ada pada indikator nomor 8.
Dan ketiganya memiliki irisan yang sama ada pada indikator nomor 12.
Nampak jelas bahwa porsi terbanyak penilaian pada indikator guru terhadap peserta didik, lalu terbanyak kedua adalah guru terhadap dirinya sendiri. Sementara, indikator penilaian guru terhadap lingkungan sosial, sangat minim.
Artinya guru diminta agar banyak berorientasi pada peserta didik sementara guru mengambil jarak dengan lingkungan sosial. Ini sungguh memprihatinkan. Guru tercerabut dari lingkungan sosial, namun perbanyak waktu perhatianmu pada peserta didik. Sangat kontradiksi.
Ketika dihitung hitung indikator dan rubrik maka sungguh mengejutkan. Jumlah indikator penilaian kinerja ada sejumlah tujuh puluh delapan lalu ada seratus limapuluh rubrik.
Begitu menyesakkan bagi guru menyelesaikan tujuhpuluh delapan indikator masih ditambah menghadapi seratus limapuluh rubrik.
Dari gambaran dan uraian diatas nampak jelas bahwa Rubrik Penilaian Kinerja Guru mengarahkan Guru agar guru jadi pembentuk peserta didik satu-satunya.
Muncul pertanyaan, bagaimana guru mengambil porsi orang tua? Apa penjelasannya? Bagaimana guru berperan sebagai orang tua bagi anaknya?
Sungguh memilukan kinerja guru!
*) Kukuh Widijatmoko, M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang
Sunday, March 20, 2016
251 Guru (pun) Wajib Belajar!
Proses belajar mengajar adalah kegiataan interaksi guru memberikan pengajaran dan peserta didik menerima pengajaran
Sosok Guru merupakan pribadi strategis. Guru memiliki kemampuan menggerakkan, menumbuhkan atau mematikan peserta didik. Guru menghadapai berbagai karakter peserta didik.
Peserta didik memiliki berbagai elemen mental, psikologi, kinestetik, sosial, spiritual, intelektual, pola pikir. Proses belajar mengajar selain mempelajari ilmu pengetahuan juga menyentuh beberapa elemen diatas.
Proses belajar mengajar bertujuan mengerakan, menumbuhkan, mengembangkan elemen-elemen diatas, bukan sebaliknya, mematikan. Peserta didik bisa bergerak, bertumbuh, berkembang jika guru berkarakter dinamis. Tapi jika peserta didik tidak mengalami ketiga hal tersebut, maka guru tersebut berkarakter monoton.
Guru dan peserta didik akan dapat menentukan karakter pribadi.
Guru secara umum terbagi menjadi dua, Guru Dinamis dan Guru Monoton.
Pengajar Dinamis
1). Terus belajar hal baru
2). Memberi pandangan objektif
3). Memberi solusi alternatif
4). Peserta didik sebagai anggota tim
5). Saling melengkapi antara guru-peserta didik
6). Berpikir positif terhadap perubahan
7). Senang membuat peserta didik berhasil
Pengajar Monoton
1). Merasa ilmu pengetahuannya sudah cukup
2). Memberi pandangan secara subjektif
3). Menyudutkan terhadap tiap masalah
4). Peserta didik sebagai subordinat
5). Guru pelit terhadap ilmunya
6). Menutup diri terhadap peruperubahan.
7). Mempersulit peserta didik
Uraian diatas memberikan sedikit pencerahan bahwa yang mesti belajar bukan hanya peserta didik melainkan guru pun wajib belajar demi peserta didik terlebih pengembangan pribadi guru sendiri.
*) Kukuh Widijatmoko, M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang
Friday, March 18, 2016
250 Strategi Menjawab Soal UN
Ujian Nasional merupakan topik hangat beberpa minggu lalu dan menjadi topik panas. Panas karena membuat pihak terlibat langsung mengalami kekalutan.
Pihak guru mencari dan menggunakkan berbagai cara agar peserta didik dalam waktu singkat memahami dan tepat memilih jawaban soal UN. Tidak ketinggalan kepala sekolah pun merapatkan barisan dengan mengumpulkan guru mata pelajaran UN.
Kepala sekolah menghimbau kepada guru UN untuk "menyiapkan" peserta didik berhasil menjawab soal soal UN. Komunikasi intensif dilaksanakan antara kepala sekolah dengan guru. Apa kesulitan peserta didik, apa yang perlu ditambah agar berhasil UN tahun ini.
Kondisi peserta didik kelas XII saat ini mengalami tekanan batin, kekalutan, dan kehilangan percaya diri. Berdasar kemampuan peserta didik baik. Berdasar penyampaian materi lebih dari cukup. Kesehatan jasmani, baik. Lalu, apa persoalan peserta didik?
Otak kiri peserta didik menuju kepenuhan materi dan latian latian soal. Tekanan dari guru, sedikit ancaman jika nilai jelek oleh pihak sekolah. Tentu situasi berdampak pada kejiwaan dan psikologi.
Dampak kejiwaan secara kasat mata dapat dilihat dalam kelas, peserta didik berada pada tingkat stres, daya tahun tubuh menurun, sulit tidur, kalut, bingung dan mudah jatuh sakit.
Pola pikir bahwa soal soal UN sulit, nanti nikai UN jelek, tidak lulus UN, dan akhirnya mengulang UN banyak menghantui peserta didik. Memang secara ilmiah belum ada penelitian tentang dampak UN terhadap kejiwaan dan paikologis peserta didik.
Satu hal bahwa peserta didik lebih ditekankan pada sisi lemahnya, kurang ini, kurang itu, bukan digarap sisi keunggulannya. Hal ini membuat peserta didik minder, tidak berdaya terhadap soal. Peserta didik menjadi was was, khawatir. Setelah itu, pikiran kalut.
Materi yang sudah dipunyai latian soal hilang dalam sekejab. Berikutnya, tidak mampu membaca soal UN dengan cermat. Lalu, tidak mengerti apa yang dimaui soal UN. Jika sudah pada tahap tidam mengerti soal maka dipastikan sulit menentukan pilihan jawaban yang tepat.
Maka perlu membangun pola pikir bahwa perlu pendekatan pentingnya memahami soal, pentingnya membangun kesadaran bahwa "aku bisa mengerjakan soal dengan baik."
Guru lebih mementingkan menambah menambah latian soal semata tanpa memberi refleksi mendalam kepada peserta didik. Guru hanya menyampaikan nilaimu naik, nilaimu turun. Tidak membangun kesadaran kamu lebih mampu dari soal, kamu bisa mengendalikan soal.
Guru perlu melatih pola pikir pendekatan terhadap soal. Pendekatan soal artinya melatih mengupas soal secara runtut, tajam dan akurat. Sehingga peserta didik tidak hanya sekedar menjawab soal saja melainkan mengedepankan pola pikir strategis.
Sosiologi merupakan mata pelajaran berlabelkan sulit bagi peserta didik. Materinya susah dipahami, soalnya sulit dikerjakan, pilihan jawaban mirip-mirip. Label label tersebut tidak salah, tapi ada cara untuk melakukan pendekatan terhadap soal UN.
Cara pendekatan dengan melatih pola pikir sebagai berikut :
1. Baca soal secara seksama dan akurat
Soal UN berjumlah 50 nomor. Kebiasaan mengengerjakan soal, langsung tancap gas, menjawab soal soal. Tapi dampaknya energi makin berkurang saat nomor soal 30 ke atas. Maka soal 31-50 energi makin menurun. Dan, sikapnya kalang kabut. Untuk itu, baca soal nomor 1-50 terlebih dahulu. Sambil membaca, tiap nomor diberi penilaian,... Soal sulit, sedang, dan mudah. Jika sudah selesai membaca semua soal. Baca ulang dengan melakukan sesuai nomor dua.
2. Carilah Kata Kunci
Saat membaca soal secara seksama dan cermat temukan kata kata atau kalimat kunci dalam soal tersebut. Tiap soal pasti ada kata kunci yang bisa membantu memahami soal. Memang tidak selalu kata tapi juga bisa berbentuk kalimat. Jika dalam sudah ditemukan kata kunci maka katankunci tersebut membantu melakukan tahapan selanjutnya.
3. Tentukan Pokok Bahasan
Penemuan kata kunci mempermudan ingatan pada pokok bahasan atau materi. Kata kunci tersebut termasuk dalam pokok bahasan kelas X, XI atau XII. Setelah ketemu pokok bahasan kelasnya disambung ke materi yang mana dari kelas tersebut. Jika sudah ditemukan materinya sampailah pada tahap ....
4. Yang Ditanyakan
Tahap ini peserta didik perlu membaca dengan cermat tentang yang menjadi pertanyaan atau yang ditanyakan. Tahap ini penting agar pola pikir bisa diarahkan untuk menentukan yang dimau, yang diinginkan soal ini apa. Maka tahap berikut ini...
5. Memilah Jawaban
Tahap memiliki tantangan tersendiri. Salah satu tantangannya ialah menwntukan pilihan jawaban dari pilihan A, B C, D, dan E. Pilihannya secara umum mirip mirip. Maka perlu cara untuk mempermudah cara berpikirnya. Caranya dari tersedia tentukan pilihan jawaban yang tidak ada hubungannya. Jika sudah ketemu, dicoret. Lalu, tentu dua pilihan yang memiliki kedekatan dengan pertanyaan. Dari kedua pilihan jawaban lakukan tahapan akhir...
6. Menentukan Pilihan Jawaban
Dari uraian proses berpikir diatas sesungguhnya peserta didik diajak dan dilatih berpikir metodis sistematis. Proses berpikir tersebut tidak hanya meletakkan dasar menjawab soal UN semata tetapi pola pikir tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari.
Sangat disayangkan jika energi pola pikir generasi bangsa hanya dipakai untuk memilih jawaban soal soal UN.
*) Kukuh Widijatmoko, M. Pd
Dosen Universitas Kanjuruhan
Malang
Thursday, March 17, 2016
249 Pendidik Impian Masa Depan
Tiga ruang kelas, satu lab bahasa, dan satu ruang guru serta kepala sekolah. Madrasah swasta yang kecil dengan tenaga pendidik yang minim tidaklah menjadi kendala untuk berprestasi. Pada tahun ajaran kali itu jumlah siswa yang mendaftar sangatlah memprihatinkan, hanya 15 orang siswa di kelasku termasuk aku. Entahlah.. banyak orang tua yang enggan menyekolahkan anak-anak mereka ke Madarasah. Berbeda dengan orang tuaku yang sedikit memaksa aku untuk bersekolah di Madrasah, selain lebih banyak mendapat ilmu agama, orang tua ku juga kurang mampu untuk menyekolahkan aku ke sekolah Negeri dengan biaya yang terbilang mahal bagi kami. Namun, tak ku sesali karena ternyata di sekolah yang kecil dengan segala fasilitas yang terbatas itulah aku meraih puncak prestasi akademik ku.
Yaa.. prestasiku memang terlihat sejak aku duduk di kelas VII. Prestasi yang aku katakan bukanlah karena jumlah siswa di kelas ku yang sangat sedikit. Justru persaingan kami di kelas itu sangat bagus, nilai antar siswa pun tidak terpaut terlalu jauh dan dapat dikatakan bahwa kemampuan kami tidak kalah dengan sekolah-sekolah di luar sana. Matematika. Aku jatuh cinta dengan rumus-rumus matematika. Tentu beralasan kenapa aku sangat menggemari Matematika. Bpk. Sutikno, sosok sederhana yang berpenampilan layaknya tukang kebun itu adalah kesiswaan sekaligus guru Matematika satu-satunya di sekolah kecil tersebut. Guru yang membuat aku jatuh cinta kepada Matematika itu sangat special bagiku bahkan bagi kami satu kelas.
Jika ditanya, apa yang membuat aku terkesan kepada beliau?. Jawabku “sangat banyak”. Dengan jabatan yang terhitung penting di sekolah, tapi beliau tidak canggung untuk berperan sebagai tukang kebun kerena sekolah sekecil itu tidak mampu membayar orang hanya untuk bersih-bersih sekolah yang luasnya juga tak seberapa. Telaten, sabar dan disiplin itulah beliau. Pernah suatu ketika aku di hukum tidak boleh masuk kelas dan berdiri dengan satu kaki di halaman sekolah hanya karena aku tidak memotong kuku,hehee... tetapi kejadian itu membuatku kapok.
Kebanyakan guru Matematika yang aku ketahui selalu menyampaikan materi di dalam kelas dengan penuh keseriusan yang membosankan. Sosok sederhana ini malah sering mengajak anak didiknya belajar di luar kelas seperti yang sering guru bahasa indonesia lakukan. Kekreatifan beliau tidak berhenti disitu. Rumus Matematika yang jika dilihat saja sudah membuat pusing kepala akan mudah di ingat ketika rumus-rumus rumit tersebut berada dalam gambar yang menarik. Seperti dimasukkan ke dalam gambar struktur tubuh manusia, kepala manusia digambar dengan bentuk bulat di dalam tertulis rumus volume bola, bagian telinga dengan bentuk segi tiga yang mengandung rumus luas dan seterusnya. Begitulah cara yang beliau agar rumus yang sulit dan membosankan menjadi hal yang menarik serta mudah dipelajari.
Di sekolah kecil itu aku banyak belajar. Tidak hanya pelajaran pada umumnya dan pengajaran keagamaan yang ketat akan tetapi juga bekal jika nantinya aku akan seperti mereka “pendidik”. Ketulusan dan keikhlasan haruslah tertanam dalam diri seorang pendidik. Seperti mereka guruku, yang setiap hari menempuh perjalanan 2-4km sama dengan kami. Mereka berjalan setiap hari demi mencerdaskan anak bangsa dengan upah yang tak seberapa. Hanya 3orang guru yang memiliki motor untuk transportasi, bahkan kepala sekolah kami pun menempuh perjalanan dengan jalan kaki.
Indah tak harus megah, berilmu belum tentu bermutu
“Dimanapun dan di tempat seperti apapun kita menempuh ilmu akan kembali pada diri kita sendiri dan sebaik baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat untuk orang lain”
*) AYU WULANDARI (120401080041)
Mahasiswa Universitas Kanjuruhan
Malang
Subscribe to:
Posts (Atom)


















