Thursday, December 10, 2015

#223 John C. Maxwell: Agar Tidak Berhenti Sebelum Mulai

Agar Tidak Berhenti Sebelum Mulai


Perjalanan Thomas Edison memang enak didengar. Namun lebih asyik membaca sedikit jalan hidupnya.

Kehidupan Thomas Edison penuh dengan kejutan. Ketika menceritakan kesuksesannya, ia berkata: Faktor terpenting dalam menghasilkan penemuan bisa digambarkan dengan beberapa kalimat. 1) seseorang harus memiliki pengetahuan khusus sesuai dengan apa yang ingin dicapainya. 2) Ia harus memfokuskan pikiran dengan tekun pada tujuan itu dan mulai mencari apa yang diinginkannya, serta mrmanfaatkan semua pengetabuan akan budang yang digelutinya, baik yang dimilikinya atau diperoleh dari orang lain. 3) Ia harus terus mencari, berapa kali pun ia dikecewakan. 4) Ia harus menolak untuk dipengaruhi fakta bahwa orang lain mungkin pernah melakukan hal yang sama namun gagal. 5) Ia harus tetap memegang teguh pemikiran bahwa jalan keluar dari masalahnya ada di suatu tempat, dan ia akan menemukannya.

Ketika seseorang memutuskan untuk mengatasi semua masalahnya, awalnya ia mungkin akan menghadapi perlawanan yang keras. Namun jika ia tetap bertahan dan terus mencari, ia pasti akan menemukan jalan keluar. Masalah kebanyakan orang adalah bahwa mereka berhenti sebelum memulai.
(John C. Maxwell, The Winning Attitude, April 2012, h. 158)

#222 Hebat: Pikiran Hati dan Tindakan



PTK : Pikiran Hati Tindakan

Hebat lhoo pikiran hati dan tindakan manusia saat dikorelasikan!

Mari kita melihat beberapa dimensi dalam diri manusia. Dimensi manusia dikategorikan menjadi tiga yaitu pikiran, hati dan tindakan.

Pikiran adalah suatu "alat" dalam diri manusia yang dipakai untuk berpikir. Berpikir merupakan proses menentukan perlu atau tidak. Bertindak atau diam. Penting tidak penting.

Hati ialah "sesuatu" yang hanya dipunyai oleh manusia. Hati dipakai untuk merasa-rasakan selama berelasi dengan lingkungan sosial. Merasa-rasakan untuk menghormati menghargai martabat manusia.

Tindakan adalah suatu aktivitas dengan memiliki tujuan tertentu. Aktivitas baik dilakukan seorang diri maupun bersama sama. Atau, aktivitas dilakukan seorang diri dengan kelompok.

Pikiran-haTi-tindaKan disingkat PTK jika berdiri sendiri maka masing-masing bekerja sesuai peran. Pikiran bekerja sendiri, hati berjalanan sendiri dan tindakan berproses sendiri.

Akan memiliki hasil berbeda ketika ketiganya dikorelasikan. Saat ketiganya  dikorelasikan hasilnya ialah beberapa formula.

Mari mencermati beberapa formula hasil korelasi PTK sebagai berikut:
1) P+ x H+ x T+
2) P+ x H+ x T-
3) P+ x H- x T+
4) P+ x H- x T-
5) P- x H- x T-
6) P- x H+ x T+
7) P- x H+ x T-
8) P- x H- x T+

Itulah beberapa formula PTK. Lalu simbul positif (+) artinya bermanfaat, berguna, kemajuan atau lainnya. Simbul negatif (-) diposisikan sebagai hal-hal yang merusak, melemahkan, atau sejenisnya.

Bagaimana uraian tiap formula dan apa hasil tiap formula? Tunggu uraian berikutnya.




Tuesday, December 8, 2015

#220 Aneh?! Pelatian koq Menulis



Yuukk ikut pelatian menulis? Menulis saja koq dilatih! Memang bagi sebagian orang latian menulis adalah hal aneh. Seaneh pelatih dan yang mau ikut. Pelatian ini bukan sekedar menulis tetapi menulis kreatif. 

Bertempat di Universitas Katolik Widya Karya Malang pada tanggal 4/12/2015 para mahasiswa ikut pelatian menulis kreatif. Pelatian menulis kreatif dilatar belakangi ingin mengembangkan ketrampilan menulis. Sehingga bertujuan agar karya tulis mahasiswa lebih bernilai berbobot dan bermanfaat.

Sebetulnya tidak ada faktor penghambat dalam menulis. Mengapa? Karena empat indikator proses menulis sudah ada dan tersedia. Keempat indikator tersebut, 1) otak. Otak sebagai wadah berpikir dalam keadaan baik sehat dan pintar. 2) peristiwa. Peristiwa adalah suatu kejadian sebagai bahan penulisan. Apa pun dimana pun peristiwa merupakan bahan mentah menulis.

3) Alat. Kemajuan teknologi memudahkan setiap orang untuk menuangkan ide, gagasan, buah pikir. Hampir tiap orang punya smartphone. Benda tersebut sangat membantu proses menuangkan ide gagasan saat ini juga. Tidak perlu bawa lap top atau bahkan komputer.

4) Media. Media adalah sasaran media cetak yang menjadi sasaran tulisan dikirimkan. Makan banyak media menerima kiriman tulisan.

Keempat hal tersebut sudah tersedia hanya bagaimana merangkai dan memulai, hal tersulitnya. Demikian pula pertanyaan peserta sulit memulai menulis.

Jawaban sederhananya ialah mulai saja hal hal dalam pikiran. Memikirkan judul itu nanti saja. Tulis saja hal hal terkait peristiwa sesuai prinsip 5W1H.

Menulis merupakan salah cara agar proses berpikir terkendali terarah terwujud. Memang sa Ini hanya berpikir berpikir menulis paling di status. Tidak apa apa.

Setelah ikut pelatihan ini lebih dikendalikan diarahkan menjadi tulisan bersifat edukatif produktif dan kreatif. Sehingga tulisan memiliki nilai manfaat bagi orang lain khususnya pembaca.
Spiritnya ialah anda menuliskan bagi orang lain agar lebih tahu wawasan lebih luas, membaca tulisanmu pembaca memiliki sudut pandang baru.

Bahkan menulis kreatif itu menuliskan hal sederhana, sepele bahkan menjadi bernilai, bermakna. Setelah membaca tulisan tersebut pembaca ...wooooo. Iyaaa iyaaa. Betul juga.

Maka keberanian dan kemauan untuk segera memulai dan menulis menulis harga yang tidak bisa ditawar.

Mahasiswa diberi tantangan untuk mengirimkan tulisan ke salah satu media cetak regional.


#221 John C. Maxwell: Cara Pikir Pemimpin Level 1


Pemimpin pada dasarnya memiliki tingkatan. Tiap tingkatan mempunyai cara berpikir.  Berikut ini cara berpikir Pemimpin Level 1.


Pemimpin Level 1 berpikir:

Dari atas ke bawah- Jabatan saya lebih tinggi dari jabatan Anda.

Memisahkan - Jangan sampai bawahan mendekati saya.

Berpura-puralah - Hingga saya tidak lagi perlu berpura-pura karena hal ini telah menyatu dengan diri saya.

Menunjukkan Kekuatan - Jangan sampai mereka melihat saya kepayahan.

Dengan Egois - Anda ada di sini untuk membantu saya.

Menggunakan Kekuasaan - Saya menentukan masa depan Anda.

Menakut-nakuti - Lakukan ini atau Anda tidak boleh ada di sini!

Sesuai Peraturan - Peraturannya mengatakan ....

(John C. Maxwell, How Successful People Lead, h. 56, 2013)

Wednesday, December 2, 2015

#219 Apa Bahan Menulis?

Mau nulis apa? Itulah ketidakpekaan, ketidakterbukaan, ketidakmengertian bahkan tidak mau tahuan sehingga mengalami kesulitan  mencari menemukan bahan penulisan.

Prinsip menulis liputan bahwa si penulis "ada disitu." Maksudnya "ada disitu" melihat mengamati mencari tahu. Metode mencari tahunya pastilah 5W1H.

Apa sajakah bahan bahan tulisan itu? Bisa berupa makanan. Suatu acara/even. Peristiwa. Lokasi. Sosok. Atau hal hal positif lainnya.

Hal positif tersebut harus dimasukkan dalam kerangka berpikir penulis. Penulis selalu memiliki pemikiran bahwa "tidak semua orang ada atau tahu yang anda ketahui." Lalu, hal tersebut penting ditulis dan perlu dipublikasikan.

Beberapa contoh liputan bisa dipakai sebagai pedoman awal. Namun tidak menutup ke mungkinan hal baru.

Sebagai contoh. Kegiatan komunitas, entah sebagai anggota atau bukan bisa melakukan liputan. Bisa diakses dialamat (http://surabaya.tribunnews.com/2015/11/27asyiknya-kencan-dengan-si-garang-manja-musang-bulan).

Contoh lain makan. Bisa menjadi bahan liputan untuk makanan bisa alasan, makanan baru, cara penyajian baru, bahan baru, cara masak baru. Sebagai contoh bisa diakses(http://surabaya.tribunnews.com/2015/11/27gulat-nikmat-dengan-bakso-tenis-gresik).

Bahan liputan juga bisa dari kegiatan lembaga pendidikan. Baik kegiatan kelembagaan atau pun peserta didik. Untuk contoh bisa diakses http://surabaya.tribunnews.com/2015/11/20/yuk-bermain-bahasa-indonesia). Diakses lainnya http://surabaya.tribunnews.com/2015/11/29/jika-guru-guru-kembali-menjadi-pandu).

Yang bahan liputan ialah rekreasi sederhana dapat diakses di http://surabaya.tribunnews.com/2015/11/20/car-free-day-ala-um).

Lain lagi bahan liputan yaitu sosok. Sosok tentu berupa kegiatan atau presentasi oleh seseorang sebagai narasumber. Bisa diakses di http://surabaya.tribunnews.com/2015/11/30/mencuri-sukses-ala-eloy).

Materi lainnya ialah seminar, bazar, pameran, tempat wisata baru ataupun wahana baru. Ternyata banyak hal bisa dijadikan bahan liputan.

Mindset tidak semua orang ada dimana ada berada maka publikasikan agar makin banyak orang tahu yang anda tahu.

Ayoooo cari tahu ada kegiatan apa dan lakukan liputan lalu publikasikan....

#218 Konstruksi Liputan 5W1H


Rumus Liputan 5W1H

Dalam setiap penulisan liputan memiliki konstruksi. Konstruksi ini sangat mempengaruhi keakuratan, kedalaman dan kemenarikan liputan.

Apa dan seperti apa konstruksi liputan?

Secara garis besar konstruksi liputan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian A) pintu, bagian B) Isi, dan bagian C) penutup.  Bagian bagian tersebut memiliki isi berbeda dan memiliki kekuatan.

Kupasan tiap bagian adalah sebagai berikut. Bagian A disebut "Pintu." Disebut pintu karena bagian ini sangat penting bagi suatu tulisan dibaca sampai tuntas ataukah hanya sampai disini saja. Bagian ini cukup terdiri dari beberapa kalimat saja. Tetapi dikemas agar menarik dan mengimajinasikan keseluruhan tulisan utuh. Memang agak sulit tetapi perlu dilatih. Serta, pembaca mendapatkan informasi apa saja.

Bagian B disebut "Isi." Karena bagian ini mendeskripsikan berbagai hal. Tentu berkaitan dengan materi liputan. Bagian isi menguraikan syarat liputan yaitu 5W1H. What/ apa, apa yang diliput. Who/ siapa, subjek liputan. When/ kapan, terkait waktu terjadinya. Ini menyertakan tgl,bln, thn. Where/ dimana. Letak/lokasi liputan. Why/ mengapa, ini mendeskripsikan alasan. Dan, How/ bagaimana, peristiwa berlangsung.

Bagian Isi juga menyertakan hasil wawancara dengan beberapa pihak. Pihak pihak tentu terkait dengan peristiwa tersebut. Artinya meminta tanggapan, penjelasan, dari beberapa pihak. Hal ini membuat liputan makin mendalam dan objektif.

Bagian Penutup, pada bagian ini mendeskripkan keseluruhan liputan. Bisa dalam bentuk hal wawancara ataukah dari penulis liputan.

Itulah Rumusan Dasar 5W1H dalam membuat liputan. Bagaiman lebih lebih dalam?

Tunggu kupasan berikutnya!!! Salam Menulis..

Tuesday, December 1, 2015

#217 Menulis


Pengantar
Menulis. Siapa tidak pernah menulis? Istilah menulis dijaman gadget adalah mengetik. Namun saya tetap menggunakan kata menulis meskipun identik dengan menulis tangan.

Hal Menulis
Ada beberapa jenis menulis. Asal menulis, iseng2 seperti up date status tidak jelas. Menulis kewajiban, seperti notulensi. Menulis alay, seperti kata kata baper. Menulis diri sendiri, seperti buku harian. Menulis ide, menuangkan gagasan sesuai sudut pandang. Menulis produktif, menulis bertujuan untuk pembaca. Pembaca memiliki nilai manfaat.
Lalu, bagaimana memulai untuk menjadi penulis? Ada beberapa tahapan perlu dilakukan. Yaitu membuka, mengangkat, mengolah dan membagikan.
Membuka adalah aktivitas diri bertujuan membuka pikiran, otak, hati untuk memulai menuangkan pikiran, otak dan hati. Ajaklah pikiran, otak dan hati untuk terbuka agar membantu dalam proses menulis.
Mengangkat adalah aktivitas berbagai macam pengalaman, pengetahuan, dan penilaian untuk dimunculkan. Bisa jadi selama ini tersimpan. Tiap orang memiliki , pengetahuan meskipun berbeda tingkatan.
Mengolah adalah aktivitas merangkai, merajut, huruf demi huruf menjadi kata. Merangkai merajut kata demi kata menjadi kalimat. Merangkai merajut kalimat demi kalimat menjadi alinea.
Membagikan adalah aktivitas menyebarluaskan tulisan. Tulisan hendaknya dibagikan. Berbagai media tersedia dalam tahap membagikan.
Itulah Empat M dalam menulis. Muncul pertanyaan, apa manfaat menulis?

Sisi Lain Menulis
Ada nilai guna akademik, intelektual, sosial, ekonomi, aktualisasi diri, spiritual dan profesi. Tiap nilai guna menulis memiliki kupasan berbeda. Maka pemilihan tujuan menulia penting dilakukan sejak awal. Tujuan menulis untuk apa? Hendak dipakai untuk apa? Bagian ini penting untuk dieksekusi.
Setiap karya hendaknya memiliki konstruksi. Bagaimana kontruksi tulisan sangat menentukan minat pembaca. Konstruksi jelas tegas dan pembagian tepat membawa pembaca pada konstruksi berpikir pembaca. Sebaliknya, jika konstruksi tulisan kacau maka pembaca pun enggan membacanya. Jelaslah bahwa konstruksi tulisan menggambarkan konstruksi berpikir penulis.
Tiap tulisan memiliki konstruksi. Konstruksi ini merupakan acuan, arahan dan panduan bagi penulis. Tujuannya agar tulisan konsisten tajam fokus pada materi tertentu. Menghindari pembahasan diluar konstruksi.

Penutup
Ada syarat baku dalam menulis. Jika menulis liputan apa pun jenisnya unsur 5w1h wajib ada. Yaitu what, who, when, where, why dan how.
Menulis kreatif merupakan sarana bagi memgundang peluang dan membuka peluang bagi hal hal tidak terduga sebelumnya. Jika siap jadi penulis siapkan Rumus Menulis Menulis dan Menulis.
Salah satu semboyan "dengan menulis maka saya ada."
*) Disampaikan untuk Mahasiswa Universita Katolik Widya Karya Malang, 4 Desember 2015